Tak Ingin Mati

Tahta.

Entahlah, berapa banyak manusia di dunia ini yang begitu ambisiusnya mengejar tahta, mengejar kuasa. Ribuan alasan mereka ungkapkan, mulai dari yang idealis sampai utopis.

“Iyalah. Menurut gue, menjadi pemimpin adalah cara paling mudah untuk memberikan kontribusi lebih buat masyarakat, dan gue ada disini untuk membawa perubahan.”

“Emang lo mau kalo orang-orang yang megang tampuk kepemimpinan adalah orang goblok kayak sekarang? Harus ada orang pintar yang mau mengubah keadaan, harus ada orang yang rela mengotori tangannya dengan politik demi kemajuan bangsa.”

“Menjadi pemimpin adalah cara gue untuk mengembangkan diri.”

“Ini passion gue. Ini hidup mati gue. Karena itu, gue merasa layak dan siap buat mimpin ini.”

“Gue punya paham, dan gue pengen nyebarin paham ini ke seluruh dunia. Dan lo pasti tau dong cara yang paling efisien buat menyebarkan paham ini: punya kuasa, punya otoritas.”

“Kalo bukan gue yang maju, lantas siapa lagi? Jangan sampai mereka yang maju adalah mereka yang tak pantas.”

…dan masih banyak lagi.

Sedih juga kala mengingat banyak rekan-rekan yang malah menyerah dan terseret pada stigma masyarakat bahwa pencapaian seseorang diukur oleh seberapa besar prestise sesuatu yang dipimpin. Mereka seolah lupa, bahwa semua tahta yang ada di dunia ini tak dibawa mati, kecuali pertanggungjawabannya. Tahta seolah sudah menjadi pendorong utama kebahagiaan mereka, hingga kemanapun mereka berada, yang dibahas tak pernah jauh dari tahta, tahta dan tahta.

Bagaimana dengan saya?
Saya masih belum ingin memegang tahta. Saya masih ingin belajar hal-hal dasar, seperti bagaimana cara memberikan kontribusi walau tanpa posisi. Saya masih ingin mengamati, bagaimana lucunya mereka yang begitu bersemangat mengejar tahta, bagaimana lucunya mereka yang berkata, “Ini demi kebaikan kita dan bangsa!” padahal yang ada hanya egoisme belaka.

Walau begitu, saya sepenuhnya sadar bahwa, layaknya kematian, tahta dan tampuk kepemimpinan merupakan hal yang tak dapat saya hindari, cepat atau lambat.ย Sebagai seorang manusia yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi (yang jumlahnya tak sampai 10% di negeri ini), seolah sudah menjadi kewajiban untuk memimpin dan membimbing mereka yang tak seberuntung saya. Ada ekspektasi yang harus dicapai, ada harapan yang harus dipenuhi.

Sayangnya, belum sekarang. Sayangnya, belum siap.

Ibarat mobil, saya sedang dalam proses perakitan. Saya sedang disiapkan untuk menjadi mobil yang akan melaju secepat mungkin begitu dipacu. Karakter dalam diri saya sudah puluhan kali diuji, layaknya uji tabrak mobil, layaknya uji ketahanan mesin, layaknya uji simulasi kecelakaan, dan entah akan diuji berapa puluh kali lagi dan berapa lama lagi.

Sembari menunggu proses perakitan, ada beberapa harapan kecil dari saya untuk para calon pemimpin.

Berharap, semoga mereka yang niatnya tulus tidak tergelincir,
Berharap, semoga mereka yang diamanahkan tidak lantas pandir,
Berharap, semoga harapan kita yang dipimpin tak dikhianati takdir.

Berharap, semoga mereka tidak dibuat buta oleh kuasa,
Berharap, semoga mereka tidak hanya sekedar kata,
Berharap, semoga mereka tidak mengotori diri dengan dusta.

Dan berharap, semoga mereka tidak mati mengejar tahta belaka.

Leave a Reply