Sociopreneur

*sedikit tulisan penulis mengenai Sociopreneur… Enjoy 😀

Menjadi Sociopreneur, Mengapa Tidak?
       Dewasa ini, perdagangan bebas yang kapitalis semakin merajai ekonomi dunia, dan  bahkan semakin tidak menemukan lawan. Tentunya, sistem perdagangan bebas membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi setiap orang untuk sukses. Tetapi, perdagangan bebas tetap tidak mampu menumpas kemiskinan secara efektif, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat miskin yang ada. Tentu, pemerintah juga harus bertanggung jawab akan kemiskinan, namun kalau hanya mengandalkan usaha pemerintah saja, tentunya tidak akan pernah cukup. Kewirausahaan muncul sebagai solusi. Berawal dari kesadaran sendiri, kita bisa membantu menumpas kemiskinan, setidaknya di sekitar lingkungan kita sendiri, dengan menjadi seorang sociopreneur.
 
       Apa itu sociopreneur? Let’s see…
 Sociopreneur. Mungkin istilah ini masih menjadi istilah yang asing di telinga kita, kita lebih sering mendengar istilah wirausaha atau entrepreneur. Sebenarnya mereka berdua tidak berbeda jauh, yang membedakan adalah sociopreneur tidak mengejar laba maksimum, dan sociopreneur bertujuan untuk kesejahteraan sosial, dengan cara memberikan modal atau kredit kepada masyarakat yang membutuhkan. Seorang sociopreneur harus bisa kreatif dalam memanfaatkan kondisi dan potensi yang ada SDM di masyarakat sekitarnya. Ibaratnya, seperti lebih baik memberi kail daripada memberi ikan, atau kalau bisa memberi ikan sebelum memberi kail agar mereka mempunyai tenaga untuk memancing. Bukankah seorang sociopreneur juga akan mengambil profit? Memang. Namun bedanya profit yang dihasilkan oleh sociopreneur pertumbuhannya digunakan untuk membantu orang yang membutuhkan secara lebih luas lagi. Sociopreneur atau kewirausahaan sosial mulai mendapat apresiasi dari dunia internasional dengan diberikannya nobel perdamaian pada tahun 2006 kepada Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh. Pendirian Grameen Bank sendiri berawal dari keprihatinan Yunus terhadap kemiskinan dan kelaparan yang melanda sebagian besar masyarakat Bangladesh akibat konflik. Yunus membantu masyarakat miskin Bangladesh dengan cara memberikan kredit kepada mereka untuk bertani dan menghasilkan pangan sendiri, meskipun awalnya merugi, kini Grameen Bank telah berdiri di banyak Negara.
       Human Development Index (HDI) yang umum digunakan sebagai parameter miskin, berkembang, atau majunya suatu negara menggambarkan HDI Indonesia menempati urutan 111 dari 182 negara di tahun 2010. Bisa dibayangkan jika seorang sociopreneur memberikan semacam modal untuk orang yang membutuhkan untuk berusaha, mereka yang memulai usahanya secara otomatis juga akan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Akan lebih banyak lagi orang yang membutuhkan yang bisa dirangkul. Dengan efek yang dapat diberikan seorang sociopreneur dalam jangka panjang, menjadi tidak mustahil bagi Indonesia untuk mengungguli Negara-negara yang sebelumnya memiliki peringkat HDI yang lebih tinggi.
       Menjadi seorang sociopreneur tentu harus melalui beberapa langkah, berikut ini adalah langkah awal untuk menjadi seorang sociopreneur.
  • Niat yang baik. Segala sesuatu berasal dari niat. Kalau niat baik, pasti hasilnya baik. Niat menjadi sociopreneur adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. Memiliki popularitas dan profit super besar bukanlah target utama sociopreneur.
  • Mencari tahu kebutuhan dan potensi masyarakat. Sociopreneur harus mengetahui hal-hal apa saja yang sedang dibutuhkan masyarakat. Ide segar dan solutif selalu dibutuhkan untuk mengatasi masalah sosial. Selain itu, sociopreneur harus mengenal dan percaya akan potensi masyarakat. Potensi masyarakat ibarat bonus bagi seorang sociopreneur.
  • Bergabung dengan komunitas wirausaha dan yayasan sosial. Berbagai macam komunitas hingga sekolah wirausaha semakin bermunculan. Komunitas wirausaha sekarang pun ada yang berskala mahasiswa hingga pengusaha muda. Sama halnya dengan berbagai macam yayasan sosial yang juga terus berkembang.  Sebaiknya sebelum terjun ke dunia wirausaha sosial, kita mengetahui terlebih dahulu berbagai macam ilmu kewirausahaan. Dengan mengikuti organisasi semacam ini, skill sociopreneurship kita juga akan semakin terasah.
  • Mengikuti kompetesi sociopreneur. Sama halnya dengan kompetisi bisnis lain, kompetisi ini membutuhkan ide bisnis yang kreatif dan solutif. Jika kita menang, maka mungkin saja ide bisnis kita akan terwujud dan diberi modal.
  • Jika merasa sudah mendapat cukup modal, segeralah beraksi dalam menjalankan bisnis sosial kita.
       Menjadi sociopreneur tentu banyak mendatangkan manfaat untuk masyarakat. Para sociopreneur turut membantu dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, mengatasi kemiskinan, mengurangi angka pengangguran, memanfaatkan sumber daya ekonomi untuk mencapai produktivitas masyarakat, mengusahakan pemerataan pendapatan, hingga memajukan pertumbuhan ekonomi. Sudah saatnya kita membangun Indonesia lewat sociopreneur. Sociopreneur bisa melihat sebuah masalah sebagai peluang bisnis, dan Indonesia sendiri sekarang ini sedang dirundung banyak masalah. Bisa dibayangkan apabila ada banyak sociopreneur yang ada. Selain itu, sociopreneur tidak hanya berperan di bidang ekonomi saja, tetapi juga sebagai sarana penyebaran nilai-nilai sosial kepada masyarakat. Tentu ini turut membantu dalam membentuk masyarakat Indonesia menjadi manusia yang  berkarakter. Sociopreneurship memberikan pesan kepada kita untuk terus peduli dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Leave a Reply