Roman Elegi

Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan. Tidak tahu kemana kamu akan menuju. Tidak tahu kemana angin akan membawa.

Derap langkahmu tak pernah lebih ragu. Tarikan nafasmu tak pernah lebih sengau.

Kamu terus berjalan, detik demi detik. Tanpa lelah mencari kebahagiaan yang sejati.

Waktu terus berjalan, hanya saja lebih cepat dari kamu. Waktu terus menunggu, kapan kamu terperosok ke dalam ruang hampa waktu, ruang dimana eksistensi waktu dianggap seperti hantu.

Di ruang itu, tak ada awal dan akhir. Kamu ibarat benda tak bernyawa namun bergerak, semacam autopilot, semacam robot. Tak ada cinta dan rindu, yang ada hanya kerja dan kerja. Tak ada keluarga dan sahabat, yang ada hanya kerja dan kerja. Tak ada perawan dan perjaka, yang ada hanya kerja dan kerja.

Ruangan itu seolah dipenuhi cermin. Kamu seolah tak sendiri. Kamu seolah bersama yang lain. Kamu adalah kalian, kalian adalah kamu.

Di ruang itu, kamu terus berkata, tapi tak pernah berkaca. Kamu merasa berbeda, padahal sama. Batas realita dan fatamorgana semakin kabur. Kamu bukan lagi manusia.

Di ruang itu, kamu bukan lagi sekedar tak leluasa, tapi tak punya kuasa atas dirimu. Tanpa sadar, kamu menjadi tidak berhak atas kehidupan, dan kehidupan juga tak berhak atas kamu. Tanpa sadar, kalian tak lagi saling memiliki. Tanpa sadar, kalian tak lagi saling mengisi. Tanpa sadar, kamu perlahan menjelma menjadi lawan kata kehidupan.

Di ruang itu, kamu terus berteriak mengejar mimpi padahal mengejar mati.

Di ruang itu, kamu terus berlagak hidup padahal sudah terlelap mati.

Kamu telah mati. Kisahmu tak lebih dari sebuah roman elegi, hidup tapi mati.

Di ruang itu, batu nisan hanya menuliskan kematian jasmani. Di ruang itu, tak pernah ada yang tahu kapan kematianmu yang sesungguhnya.

Oleh semesta, ruang itu diberi nama ‘dunia’.

Leave a Reply