Review: ‘Ultrabook’ Laptop ASUS K401LB (dan panduan membeli laptop)

Untuk spesifikasi dan gambar lengkap bisa dilihat di www.asus.com/id/Notebooks/K401LB/
Tanggal beli: 15 Juni 2016. Harga: Rp7,800,000 (offline)
Caution: this is a casual review, based on my actual experience. You won’t find any advanced benchmarks score right here.

.

Sudah hampir 3 minggu sejak gue memutuskan untuk membeli laptop baru, menggantikan netbook lama gue ASUS X201 yang sebenarnya masih works very well. Gue butuh laptop yang powerful enough untuk aktivitas desain dan gaming, while tipis enough untuk bisa dibawa kemana-mana.
.
Dan ternyata mencari laptop yang sesuai dengan spesifikasi demikian cukup sulit. Kebanyakan laptop yang ada di pasaran saat ini seolah memaksa konsumen untuk memilih antara dua pilihan: mau laptop enteng berasa ultrabook atau berat tapi powerful. That, unless lo mau naikin budget lo hingga kisaran Rp10juta-an untuk beli Zenbook atau Lenovo Yoga. Atau MacBook Pro. Atau mau nungguin Zenbook 3 yang super cool dijual di Indonesia.
.
Well, sebelum memutuskan untuk membeli laptop ini, I do have several ‘candidate’ yang mungkin bisa dipertimbangkan (karena harga lebih murah juga):
1. Lenovo Ideapad 100: +- Rp5,000,000. Gue hampir beli laptop ini, di harga sekelasnya (dan bahkan bisa lebih murah kalo lagi promo) gue belum nemu yang lebih baik. Prosesor intel I3 generasi 5, kartu grafis-nya juga udah diskrit (NVIDIA GT-920) dan RAM 2GB. Port lengkap.
2. Lenovo G40-80: +- Rp4,700,000 (bisa lebih murah juga kalo ada promo). Prosesor AMD,  discrete graphic card-nya juga AMD (R5). RAM 2GB. I’ll go with Ideapad 100 karena lebih prefer prosesor Intel dan kartu grafis NVIDIA.
3. ASUS A456UF: +- Rp7,250,000. Prosesornya Intel i5-6200u (udah skylake alias generasi 6, better than laptop yang gue beli), NVIDIA GT-930. RAM 4GB. Ada CD-ROM, VGA, bahkan USB-C. Port-nya lengkap. Hampir beli ini juga. Ini best buy kalo lo ga masalah dengan laptop yang berat (p.s: beratnya masih wajar kok).
*untuk spesifikasi lengkap dan gambar googling sendiri ya, kecuali untuk Lenovo Ideapad 100 lo ga akan nemu spesifikasi yang sama dengan yang gue sebutin di atas (ternyata Lenovo memang bisa jual satu brand yang sama tapi spesifikasinya beda-beda). Gue mention specs itu berdasar temuan gue di toko offline dan toko online.
*sedangkan ASUS K401LB yang gue beli ini kisaran +-Rp7,800,000. Intel i5-5200u, NVIDIA GT-940. RAM 4GB. Ga ada CD-ROM, ga ada VGA, apalagi USB-C.
*notes: gue pas nulis dan survey pasar satu bulan lalu belum nemu nih laptop yang best buy di kisaran 6juta. Better go with Ideapad 100 atau G40-80, best buy (specs wise). Ideapad kalo gaming merupakan prioritas, G40 kalo budget merupakan prioritas.
*in the end, kalo lo in a very tight budget (katakanlah budget lo ga nyampe 5juta), go with Lenovo brand. ASUS di price level segini ga bisa kasih specs yang bersaing. Tapi kalo budget udah 7-8jutaan, gue saranin untuk ambil ASUS karena Lenovo di harga segini kebanyakan pake AMD (baik prosesor maupun kartu grafisnya). Setelah gue baca berbagai benchmark review, AMD ini memang lebih murah namun secara benchmark score masih di bawah prosesor Intel dan kartu grafis NVIDIA. Untuk dapet Lenovo yang udah pake NVIDIA malah harganya di atas laptop ASUS.
*kenapa nggak brand lain?
-Apple: kemahalan ga sesuai budget gue. Kalo berbicara spesifikasi, mereka overprice (lebih mahal dari seharusnya) banget. Tapi memang aftersales-nya oke banget, OS nya juga user-friendly (jauh lebih ‘mudah’ daripada Windows).
-HP: simply overprice di atas Lenovo dan ASUS.
-Dell: selain overprice, mereka jualnya bahkan bukan kosongan, tapi diisi OS Ubuntu. Well, Ubuntu tidak cocok bagi kalian (dan gue) yang ga mau ribet. Satu-satunya laptop Dell yang gue recommend adalah Dell XPS, dan harganya sekitar Rp20,000,000. (bukan budget gue)
-Acer: desain laptop Acer tidak sesuai dengan selera gue, terlalu tua dan konvensional
-So please, save your time. Go with Lenovo or ASUS if your budget were under Rp10juta. Kalo budget lo di atas itu, boleh lah consider MacBook Air or Pro / Lenovo Yoga / Asus Zenbook / Dell XPS / HP Spectre.
.
Setelah baca perbandingan di atas, tentu timbul pertanyaan, “How on earth you finally buy the most expensive option while not getting all the feature?”
.
Alasan gue karena… laptop ini sesuai dengan apa yang gue cari: tipis (dan ringan) while powerful enough buat gaming and design. Setelah mencari hingga ke ujung dunia browsing semingguan, ini adalah laptop paling murah yang bisa menawarkan kedua hal tersebut (gue orang yang percaya bahwa untuk desain dan gaming lo butuh grafik diskrit / bukan integrated). Walau harga laptop-nya jauuh di atas initial budget yang gue tetapkan (dan berhasil membuat dompet gue kering setelah beli), pada akhirnya gue berharap laptop ini akan age well (ga perlu beli laptop lagi untuk beberapa tahun ke depan) layaknya MacBook.
.
Oke, jadi ini beberapa poin terkait laptop ini setelah penggunaan selama tiga minggu:
1. Desain laptopnya stunning. Berbahan aluminium berasa kaya MacBook, tipis enough, enteng (1.6kg). Berasa deh kualitas bahannya. Looks very good.
2. Battery life awet banget, bisa tahan 4-5 jam an untuk office activities (browsing, typing, while listening music).
3. Nge-charge / ngisi battery nya cepet banget! Like ga nyampe sejam untuk ngisi dari kondisi battery kritis sampe full lagi.
4. Nggak panas. Bahkan saat dan setelah main game pun panasnya enggak kebangetan. Teknologi “Ice Cool” gue rasa bukan sekedar gimmick pemasaran belaka, emang beneran dingin.
5. Buat ngetik cukup nyaman, travel-nya enak, ga terlalu shallow juga. Touchpad-nya juga lumayan, walau lo akan butuh beberapa hari untuk terbiasa (somehow agak licin).
6. Oh iya, pembeliannya ga include Windows 10 ya. Jadi perlu untuk request di-install-in Windows sama agan yang jual (ga original). Atau, lo mau spend untuk beli asli.
7. Gue design pake Adobe Photoshop, Indesign, dan Illustrator. Sejauh ini ketiganya berjalan lancar tanpa kendala.
8. Game yang sudah gue jalankan: DotA 2, PES 2016 dan NBA 2k16. Gokil sih, lancar dan di layar enak banget diliat-nya (resolusi layarnya emang udah FHD sih)
9. Wake up speed-nya dari posisi sleep cuman 2 detik. (tapi perlu di-setting dulu di menu sign in)
10. Buat multitasking okelah, cuman terkadang masih ada lag gitu (biasanya kalo buka tab chrome super banyak, atau lagi buka banyak apps berat sekaligus). Lag yang sama juga muncul di laptop lama gue ASUS X201 (padahal secara specs udah kaya bumi dan langit lol). Entah karena RAM-nya mereka sama (sama-sama cuman 4GB), atau karena Windows 10-nya. Sepertinya memang harus upgrade RAM 4GB (total jadi 8GB) supaya bisa mengaktifkan Dual Channel (apa itu? Try Googling.). Tapi ga sampai pada taraf mengganggu.
11. Bukan laptop fanless, tapi suara kipasnya masih dalam batas wajar kok. Kipasnya sendiri terletak di dekat engsel layar, jadi bukan di sisi samping.
.
Jadi, demikian tulisan singkat malam ini. Drop a comment or leave me a message if you have any further questions! #MaluBertanyaSesatdiJalan

3 Replies to “Review: ‘Ultrabook’ Laptop ASUS K401LB (dan panduan membeli laptop)”

  1. wihh ini laptop bener-bener idaman ane dulu, sayang nya gak sampek bisa ke beli dan akhirnya ane beli versi standart doang . semoga aja suatu saat nanti bisa keturutan punya nih laptop asus

  2. Terima kasih reviewnya qaqa

  3. Oh iya, bener ya Dell jualan laptop diisi OS Linux fams? Gue rencananya mau beli laptop Dell sih. Skrg lagi pakai HP. Bosan pakai HP. Hmm Terlalu banya varian, sampai bingung harus beli apa. Gue liat-liat Dell gak banyak varian, selow-selow aja. Terus, bisa diinstalkan WIndows kan laptop Dell itu?

Leave a Reply