Petualang

Belakangan ini, saya merasa semacam uneasy terhadap diri sendiri. Semacam ada sesuatu tak kasat mata yang berjalan tak semestinya.

Tak tahu kenapa, belakangan ini saya merasa berubah menjadi introvert. Rasanya seperti mahasiswa yang kegiatannya dari pagi sampai malam sudah penuh sesak layaknya pejabat kacung. Belajar di kelas, ikut asistensi (kelas tambahan), mengurus kepanitiaan atau organisasi, lalu pulang mengerjakan tugas atau istirahat buat hari esok, menghadapi rutinitas yang nyaris sama, yang hanya begitu-begitu saja. Rasanya hanya ada sangat sedikit waktu untuk sekedar berbincang-bincang atau mengobrol dengan teman-teman.

Dan sejujurnya, saya merasa bahwa ini kehidupan macam ini super membosankan. Terkadang saya berpikir, untuk apa jauh-jauh belajar disini kalau hanya untuk melakukan hal-hal diatas?

Sejak awal, saya merupakan orang yang cukup skeptis dengan Indeks Prestasi Kumulatif alias IPK, walau saya sadar kalau hal itu lebih dikarenakan karena saya sejak dulu bukanlah tipe pelajar yang ‘akademik’, mengejar nilai kuantitatif alias hasil akhir. Saya lebih suka belajar nilai-nilai kehidupan dari semesta yang dinamis daripada terjebak dalam hafalan dan hitungan yang pragmatis.

Nah, masa semester tiga ini sebenarnya saya niatkan untuk menjadi semacam masa eksperimen. Saya mencoba merubah pola pikir saya dengan mencoba berpikir bahwa saya perlu mengejar IPK demi membahagiakan orang tua, dan mahasiswa yang ideal adalah manusia yang mampu menyeimbangkan kehidupan kuliah dan kehidupan ‘nyata’. Kuliah dan kehidupan bukanlah trade-off.

Namun, dengan mindset seperti itu, sekarang saya justru merasa terjebak dengan rutinitas belajar dan belajar. Rasanya, saya hanya bertemu dan berurusan dengan orang-orang yang itu-itu saja, yang kebanyakan tak lebih dari sekadar basa-basi belaka. Saya merasa terjebak dalam sebuah lingkaran. Tak banyak kesenangan yang saya temukan. Ternyata menjadi pelajar yang ‘akademik’ jauh lebih membosankan dari yang saya bayangkan.

Tak ayal, saya memutuskan untuk mencari aktivitas dan rutinitas baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya mencoba untuk rutin belajar bahasa arab tiap akhir pekan, dan ternyata justru di aktivitas baru di luar kelas itulah saya menemukan antusiasme yang tidak terasa ketika berada di dalam kelas. Saya merasa bahwa segala hafalan dan hitungan ini hanya sebatas membantu saya dalam mendapatkan pekerjaan, bukan menciptakan lapangan pekerjaan. Belajar di dalam kelas bukannya tidak penting, namun apalah guna menuntut ilmu apabila tidak digunakan dan disebarluaskan. Bagi saya, kelas yang sesungguhnya ada di lapangan, dan ujian yang sesungguhnya ada di berbagai problematika kehidupan yang serba dinamis, bukan di atas kertas folio bergaris.

Pelajaran sesungguhnya terdapat di luar kelas yang seluas semesta, bukan di dalam kelas yang sebatas bangku dan meja.

Akhirnya, ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil hikmahnya. Pertama, bukannya IPK dan segala urusan akademik tidak penting, namun hidup yang hanya sebentar ini tentu tak hanya sebatas angka yang tertera di dalam kolom nilai. Kedua, self-esteem tidak datang dari aktivitas yang monoton dan itu-itu saja, tapi dari berbagai aktivitas baru yang kita lakukan. Kita harus berani keluar dari perangkap dinding kelas dan berkelana menyusuri semesta. Dan ketiga, saya tak ingin terus berdiam di hadapan buku dan papan tulis, atau berdiam melihat orang-orang disekitar saya terus memberikan kontribusi, atau berdiam melihat rekan-rekan saya menorehkan prestasi,

saya akan berjuang untuk menjadi seorang petualang, membuka tirai demi tirai kehidupan, menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang membutuhkan.

Hidup ini tak cukup untuk sekedar menjalani, hidup ini adalah tentang memberi arti. Sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu memberikan manfaat bagi sesamanya. Semoga ini semua tak berhenti menjadi sekedar ambisi, namun berlanjut menjadi sebuah realisasi yang mampu menginspirasi.

Leave a Reply