Mimpi Malam Itu: Kyoto, dan Kehidupan Setelah Lulus

Hanya kurang dari 20 hari lagi sebelum saya meninggalkan Jepang dan kembali ke tanah air untuk menyelesaikan studi.

Saya teringat, saat pertama kali menjejakkan kaki di sini… tujuan saya sederhana: mencari diri sendiri.

Ya, saya termasuk orang yang kala itu mengalami apa yang disebut sebagai quarter-life crisis; masa di mana manusia meragukan dirinya sendiri.

Kurang lebih 10 bulan yang lalu, saya tidak memiliki gambaran tentang kehidupan setelah lulus kuliah.

Tapi, alhamdulillah, ternyata semua sudah ada yang mengatur.

Perlahan, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang… menginspirasi saya dalam bermimpi. Pada bulan-bulan pertama, saya bertemu bapak-bapak ibu-ibu yang sedang menjalani studi Master atau Doktor-nya. Beberapa di antara mereka ingin menjadi peneliti, sedangkan beberapa lainnya memang sejak awal berprofesi sebagai dosen. Saya perlahan menyadari salah satu hal yang ingin saya lakukan dalam hidup: mengabdi menjadi pengajar.

Jadilah saya punya rencana jangka pendek sepulangnya ke tanah air: mencari lowongan asisten dosen (asdos).

Tapi, menjadi asdos saja tidaklah cukup untuk menyambung hidup, setidaknya begitulah testimoni dua sahabat saya yang sudah lebih dulu jadi asdos. Terbesit keinginan membantu ‘proyekan’ dosen, tapi saya sadar kesempatan yang seperti ini datangnya tidak pasti dengan upah yang juga tidak pasti.

Lantas muncullah mimpi lama saya: menjadi pengusaha, alias memulai bisnis kecil-kecilan. Dengan jam kerja asdos yang fleksibel, menjadi pengusaha sangat memungkinkan. Apalagi, sejak dulu kedua orang tua saya sangat ingin melihat putra sulungnya ini menjadi pengusaha seperti ayahnya.

Oke, nampaknya kombinasi asdos dan menjadi pengusaha cukup menarik.

Tapi, lambat laun saya menyadari kurangnya ‘panggilan’ untuk menjadi pengusaha. Memikirkan hal-hal semacam, “Mau jualan apa? Nanti gimana jualnya? Pekerjanya? Bahan bakunya?” saja, saya tidak antusias. Makin lama, bukannya makin mantap, yang ada saya malah makin tergerak untuk mencari alternatif lain.


Bulan berlalu dan tahun berganti. Belum ada perkembangan di mimpi saya; semata karena kewalahan dengan kuliah di semester genap ini.

Lagi-lagi, saya dipertemukan dengan teman-teman di sini yang mau melanjutkan studi Master-nya. Saya jadi ingat kalau impian saya tentang melanjutkan kuliah itu masih belum jelas; mau ambil jurusan apa, di kampus apa, lanjut Doktor apa engga, dan yang paling penting…. sebenarnya mau buat apa.

Mulailah saya melakukan riset di internet tentang program master (dan beasiswa yang ditawarkan), yang ternyata cukup memakan waktu.

Awalnya, pencarian saya tidak fokus; karena saya sendiri juga belum mengerti mau belajar apa, mau ambil konsentrasi apa (jurusan S1 saya adalah Manajemen). Tapi, satu hal terlihat pasti: saya tidak berminat MBA. Preferensi saya mengarah ke Master of Science atau Research (M.Sc atau M. Phil… atau semacamnya, yang penting menggunakan thesis sebagai syarat kelulusan).

Setelah membaca beberapa paper tentang manajemen (sambil memikirkan tentang proposal skripsi) akhirnya saya menemukan interest saya: manajemen inovasi dan perkembangan teknologi. Berangkat dari situ, mulailah saya mencari post-graduate program yang sesuai.

Inilah beberapa program yang menarik minat saya:

  • MSc in Innovation Management, Eindhoven University of Technology (Belanda)
  • MSc in Management of Innovation and Business Development, Copenhagen Business School (Denmark)
  • MSc in Innovation Management and Business Development, Aarhus University (Denmark)
  • Master’s Programme in Entrepreneurship and Innovation Management, Aalto University (Finlandia)
  • MSc in Economics and Management of Innovation and Technology, Bocconi University (Italia)
  • International Technology Management Program, Tokyo University (Jepang, dari S2 hingga s3)
  • East Asia Sustainable Economic Development Program, Kyoto University (Jepang, dari S2 hingga S3)
  • MSc in Management and Technology, Technical University of Munich (Jerman)

Berikut pertimbangan saya dalam memilih:

  • Kurikulum di Denmark dan Finlandia cenderung berat ke entrepreneur, sedangkan saya lebih ingin jadi peneliti.
  • Tidak adanya research interest yang cocok antara saya dengan profesor atau lab yang ada di Tokyo; nyaris semuanya adalah peneliti industrial engineering. Bahkan, gelar yang diberikan jika lulus adalah Master of Engineering dan Doctor of Engineering.
  • Program di Belanda dan Jerman sangat menarik karena proporsi antara ilmu manajemen dan ilmu teknik-nya seimbang (saya yang tidak punya latar belakang teknik jadi bisa memperdalam pengetahuan di situ).
  • Sedangkan program di Italia fokus pada proses inovasi dalam sebuah perusahaan (dari teori organisasi sampai intellectual property).
  • Program dan research di Kyoto, seperti namanya, lebih fokus pada pengembangan masyarakat. Tidak seperti di Tokyo, di sini saya menemukan profesor atau lab yang research interest-nya cocok dengan saya.

Saya juga mempertimbangkan learning style yang berbeda antara kampus di Eropa dan Jepang. In general, di Eropa (dan berbagai negeri Barat lainnya) hubungan antara mahasiswa dan dosen lebih loose alias lepas. Dalam kelas, mereka tidak terlalu memperhatikan absensi, yang penting hadir saat ujian. Dan tentu saja, penguasaan bahasa Inggris mereka jauh lebih bagus dibandingkan dengan di Jepang. Ini penting untuk saya yang mendalami ilmu sosial, karena ilmu yang kita dapat lebih banyak dari diskusi dan pemikiran, bukan eksperimen di lab.

Sedangkan di Jepang, profesor (atau istilah Jepangnya: Sensei) dan mahasiswa memiliki hubungan yang dekat dan formal. Bisa dikatakan, kurang lebih mirip dengan hubungan antara kebanyakan dosen dan mahasiswa di Indonesia. Di dalam kelas, absensi merupakan salah satu komponen penilaian. Bahkan, bisa jadi ada kelas yang tidak memiliki ujian akhir; penilaiannya murni hanya dari absensi, diskusi, presentasi, atau partisipasi.

Pada akhirnya, saya memutuskan memfokuskan pilihan saya pada Kyoto University. Kenapa?

  • Syarat yang ‘mahal’ untuk kuliah di Eropa: tes GMAT dan IELTS. Biaya tes-nya sendiri bisa habis hampir Rp6 juta, belum lagi biaya untuk persiapannya.
  • Pengalaman saya hampir setahun menjalani exchange program di Jepang juga menjadi faktor. Saya sudah sedikit mengerti bahasa Jepang, dan paham tentang kebiasaan masyarakatnya baik dari sisi negatif maupun positif. Dan saya sendiri merasa…. nyaman, bahkan sebagai seorang muslim (awalnya terasa sulit sekali mencari makanan halal, tapi lambat laun, saya terbiasa dan mengerti bagaimana cara mendapatkan atau mengolah makanan halal).
  • Adanya kesempatan mendapat beasiswa dan kerja part-time dengan nominal yang lebih dari cukup (apalagi jika dirupiahkan), serta bisa langsung melanjutkan ke S3 tanpa harus pulang (ini tergantung juga dengan beasiswanya; tidak memungkinkan jika Anda mendapatkan LPDP).

Well, tentu banyak juga konsekuensi negatif yang harus diterima seperti: harus belajar bahasa Jepang (the program is fully taught in English, but, it’s no longer a secret that most Japanese -even the professors, have low level of English proficiency), bukan ‘hotbed‘ ilmu manajemen inovasi layaknya Eropa atau Amerika, potensi konflik dengan Korea Utara, sempitnya lahan kerja untuk lulusan S3 (opsi terbaik setelah lulus adalah pulang, sejauh yang saya tahu), dan ya, lima tahun di Jepang is quite a long time.

But, I feel ready.

Untuk tipikal orang yang enggan bekerja kantoran seperti saya, I feel this is my best bet. Apalagi, saya juga masih dititipkan bisnis kost-an oleh orang tua saya… yang tidak dapat ditinggal seharian di kantor (ini pengalaman pribadi saya saat magang di sebuah perusahaan di daerah Jakarta tahun lalu). Mereka sudah beberapa bulan ini mewacanakan untuk menjual kost-an, tapi hingga kini belum menemukan pembeli yang sesuai.

Sejujurnya, saya juga belum mengerti apa yang akan saya lakukan selepas S3: apakah tetap di Jepang, kembali ke Indonesia dan mengembangkan masyarakat di kota kecil (selain kerja kantoran, saya enggan hidup di kota besar; saya sama sekali tidak masalah hidup di luar Jawa), atau malah ke negara lain. Apakah jadi peneliti, dosen, keduanya, atau malah banting setir ke bidang lain.

Tapi ya, itulah risiko yang siap saya ambil.

Secara singkat, rencana hidup jangka menengah saya adalah:

  • Fokus menyelesaikan skripsi di sisa 2018, mulai membuka dan menanam investasi (saham dan/atau sukuk)
  • Lulus S1 di awal 2019
  • Menjadi asisten dosen, serta mencari sumber pendapatan lain selama 2019. Di saat yang sama pula, saya harus menyiapkan berkas-berkas pendaftaran untuk Kyoto dan beasiswa yang saya inginkan.
  • Belajar bahasa Jepang mulai sekarang dengan harapan sudah mencapai at least conversational level saat nanti berangkat.
  • Jika semua rencana di atas lancar, maka saya akan kuliah di Jepang mulai September 2019 dan selesai pada pertengahan 2024.
  • Cari kerja sambilan di Jepang, entah apa, untuk menambah modal investasi dan tabungan

But, as for now, I will keep my options wide open. Manusia mengerti apa yang mereka inginkan, sedangkan Allah mengetahui apa yang sejatinya mereka butuhkan. Saya bisa berencana dan berusaha, tapi saya tidak dapat merubah takdir. Saya percaya bahwa kelak apapun yang terjadi, itu semua adalah yang terbaik, karena datangnya dari Allah.

Sekian curahan hati saya yang demikian panjang ini. Jika ada warganet yang membaca dari awal hingga selesai, saya mohon doanya semoga rencana saya dilancarkan. Boleh juga diberi semangat atau saran; I’ll deeply appreciate that.

 

Sendai, 2 Agustus 2017.

2 Replies to “Mimpi Malam Itu: Kyoto, dan Kehidupan Setelah Lulus”

  1. hi mas faathir.
    saya icha, tulisan yang menarik mas. Saya juga tertarik dengan fakultas east studi development di Kyodai. apa mas tahu, bedanya dengan program yang regular?
    apa harus bisa bahasa jepang dulu…

    boleh tahu IGnya? saya mau tanya2 lebih jauh. saya di @m_luica, saya belum nemu ID nya mas faathir.

    1. Haloo Ica, maaf banget baru baless hehe.
      Bedaa, kalo program yang reguler tuh pengantarnya pake bahasa Jepang jadi ada syarat minimal JLPT nya gituu.
      Sedangkan kalo yang East Asia ini emang dikhususkan untuk pendaftar internasional, jadi syaratnya malah TOEFL :))

      Boleeh, ig saya @darefatir. Monggo ngobrol ajaa di IG atau line (id nya sama kayak ig).
      Anyway, salam kenaal! 🙂

Leave a Reply