Kuliah Belum Tentu Belajar: Menurut Saya (Bagian 1)

Jangan biarkan mimpi Anda terhempas begitu saja

Catatan penting sebelum membaca:
Pemikiran saya sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman, jadi situasi ini sangat mungkin tidak serupa dengan yang Anda pikirkan atau Anda alami. Jadi, jangan di-generalisir ya.

 

Ketika memasuki masa-masa awal menjadi mahasiswa dan belum tahu mau jadi apa, kebanyakan dari kita dulu memasang target-target idealis-dan-generalis (is that even a word); yang simply kita pasang karena belum tahu banyak tentang dunia perkuliahan itu sendiri.

Contohnya:

  • Lulus tepat waktu (antara 3,5 – 4 tahun)
  • Lulus dengan IPK Cum Laude (kalau di UI IPK >3.5)
  • Mahasiswa Berprestasi

Kalau saya sih tidak perlu melihat jauh-jauh untuk membuktikan ini… cukup dengan melihat buku angkatan yang saya dan teman-teman se-angkatan saya (FE UI 2013) buat pas jadi mahasiswa baru dulu. Di buku itu ada kolom ‘harapan di FE UI’, dan mungkin sekitar 80-90% (termasuk saya) mencantumkan paling tidak 1 dari 3 contoh yang saya tulis di atas.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya satu per satu dari kita memahami realita dunia perkuliahan (udah semacam realita pernikahan aja ya). Dalam kasus saya, apapun mimpi yang akhirnya kita sadari, sebagian besar teman-teman saya sih masih menginginkan paling tidak 1 dari 3 target itu tercapai. Paling umum tentu saja lulus tepat waktu (4 tahun); syukur-syukur kalau masih bisa cum laude. Hanya segelintir yang masih ingin lulus secepat mungkin alias menyelesaikan studi dalam 3,5 tahun. Sedangkan mimpi untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi pastinya telah berganti menjadi ‘sekedar pernah berprestasi‘ atau pencapaian lainnya yang berbeda kategori dan konteks.

Bagaimana dengan saya? Mungkin akan lebih mudah diceritakan dengan poin-poin secara kronologis:

  • Semester 1: sudah jauh-jauh melupakan ketiga mimpi itu; merasa salah jurusan. Waktu itu saya sudah membulatkan tekad untuk ikut SBMPTN atau SIMAK UI lagi supaya bisa pindah jurusan ke Ilmu Psikologi. Di saat IPK teman-teman saya sedang tinggi-tingginya (mungkin sekitar 3,7an), IPK saya malah sedang hancur-hancurnya (hampir 2, untungnya masih 3). Masih segar di ingatan saya saat mendapatkan nilai 8 (8 dari 100, bukan 80) pada Ujian Tengah Semester mata kuliah Matematika Ekonomi dan Bisnis; hanya dengan penuh keajaiban (baca: kebaikan dosen) lah saya masih bisa lulus.
  • Semester 2: baru tahu kalau di jurusan Manajemen ada konsentrasi SDM / HR yang waktu itu saya pikir cukup serupa dengan Psikologi. Well, masih ada peluang. Akhirnya saya mencoba untuk settle dengan FE UI; mengumpulkan kembali niat kuliah dan mencoba aktif di organisasi (waktu itu baru terpilih jadi Staff Penerbitan Economica sekaligus Ketua Paguyuban). Ternyata tidak buruk-buruk amat. IPK saya naik, walau IP saya belum cum laude juga. Masih belum tahu mau jadi apa.
  • Semester 3: nggak jadi ikutan tes lagi! Ternyata saya masih di FE UI. Alasannya karena: tanggal SBMPTN bentrok dengan UAS, dan ternyata saya menemukan diri saya tidak cukup termotivasi untuk ikut SIMAK UI. Akhirnya untuk pertama kalinya merasakan IP cum laude (mepet 3,5). Mulai optimis dan menatap masa depan cerah. Saya, di semester ini, sedang mengalami fase ‘menjadi mahasiswa yang rajin’. Masih belum tahu juga mau jadi apa, tapi yang terbayang saat itu adalah memulai bisnis sendiri.
  • Semester 4: sedikit galau saat memilih konsentrasi jurusan: antara Finance atau HR. Pada akhirnya saya pilih HR karena saya yakin bisa menonjol di situ (dan teringat pemikiran saya sendiri saat semester 2 lalu); meanwhile di Finance most likely saya akan tenggelam. Di semester ini (dan berlanjut sampai semester depannya) saya mengambil keputusan gila: menjadi Ketua Panitia / Project Officer (PO) di dua tempat yang berbeda. Menjadi PO adalah salah satu mimpi saya saat semester dua, dan alasan kenapa berani ambil keputusan demikian adalah curiousity; penasaran apakah memang se-gila itu experience yang akan saya dapatkan. IP saya saat ini bikin sakit hati sih; tepatnya 3.49. Masih belum tahu mau jadi apa; mungkin lebih tepatnya tidak sempat memikirkan karena saking sibuknya. Oh ya, mulai semester ini juga saya diamanahkan oleh Orang Tua untuk mengurus bisnis kost-an mereka di Jakarta; literally jadi penjaga kost-an.
  • Semester 5: sesuai prediksi, ini semester paling gila. Masalahnya, kegilaan yang saya hadapi benar-benar jauh di atas ekspektasi. I was really exhausted, both physically and mentally. Sukses kah? Tidak sama sekali. Kedua project yang saya pegang sama-sama bermasalah. Seolah tidak mau kalah, kost-an saya juga tak kalah bermasalahnya; saat hari H acara yang saya pegang, kost-an saya digrebek karena ada penghuni yang melakukan KDRT. Kamar saya didatangi polisi jam 3 pagi. Setelah itu saya juga mendapat laporan dari penghuni lain kalau ternyata ada penghuni kost saya yang menyimpan narkoba dan bekerja sebagai wanita penghibur sehingga mengganggu ketenangan penghuni lain (untungnya setelah dilakukan berbagai upaya akhirnya berhasil mengusir para penghuni bermasalah itu). IP saya, tentu saja, menurun. Rentetan kejadian di semester 5 inilah yang membuat saya mulai mempertanyakan my ability in leadership; whether I was suitable in leadership position or not. Saya benar-benar kehilangan ide tentang masa depan; simply karena merasa tidak punya energi untuk sekedar berpikir. Lesson learned (atau lebih tepatnya kalimat penghibur saya) pada masa susah ini adalah: pilihannya bukan keberhasilan atau kegagalan, melainkan keberhasilan atau pembelajaran.
  • Semester 6: sebelum semester ini berjalan, saya perlu untuk memutuskan satu hal: whether leadership is my thing or not. Saya sedang di persimpangan, antara meneruskan karir sebagai ‘Ketua’ (I was assigned in a leader position since the very first day in my college life) atau berhenti dan mencari hal baru. Pada akhirnya saya memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi ketua Economica. I was curious which path I should take, and eventually let Allah and His destiny decide. Pada akhirnya, takdir memutuskannya: saya tidak terpilih, dan harus mencari hal baru. Setelah semua yang terjadi di semester 5, saya hanya tahu satu hal tentang masa depan: I want to go as far as possible; bukan untuk melupakan, tapi untuk mengistirahatkan pikiran saya yang ‘kurang piknik’. Pada titik ini, saya merasa apa yang saya telah dan akan pelajari di HR akan percuma saja kalau tidak tahu mau jadi apa kelak; konsultan-kah, researcher- kah, headhunter- kah, dan lainnya. Saya benar-benar tidak mau lulus dengan keadaan ‘tidak tahu mau jadi apa’. Setelah menimbang semua opsi yang ada, sebelum semester 6 berjalan, akhirnya saya membulatkan tekad: ikut exchange student program, entah ke manapun itu. Ternyata, jalan saya untuk ikut exchange program lapang sekali takdirnya; sekali daftar langsung diterima, dan bahkan mendapat beasiswa dari pemerintah Jepang selama 1 tahun mulai semester 7. It was not an easy decision, karena berarti saya harus merelakan masa studi saya bertambah selama 1 tahun. But, well, saya merasa tidak ada gunanya juga kalau saya lulus dengan keadaan tidak tahu mau jadi apa. Saya percaya, kuliah bukan tentang seberapa cepat kita lulus atau sebaik apa nilai yang kita dapat, tapi sudah seberapa banyak kita belajar; sudah seberapa banyak yang kita dapatkan.  IP saya semester ini? Maasyaa Allah, bahkan hampir menyentuh angka 4. Tapi kalau boleh jujur, saya sadar bahwa justru pada semester ini saya merasa hanya belajar sedikit sekali dalam konteks akademis, walau IP berkata sebaliknya. Refleksi saya terhadap IP dan pembelajaran akan saya tulis di Bagian 2.
  • Semester 7: ada satu tujuan besar yang saya emban selama 1 tahun di Jepang: mencari apa sebenarnya yang benar-benar saya inginkan di masa depan. Menjadi dosen-kah, entrepreneur-kah, peneliti-kah, dan lain sebagainya. I am trying to find myself, setelah sekian lama tenggelam dalam topeng ‘pemimpin’. Berhasilkah? Mungkin belum bisa saya tulis sekarang hehe karena juga belum kelar semester 7-nya

Jadi, begitulah.

Lulus tepat waktu? Not possible. Cum laude? Not possible. Berprestasi? belum tahu, tapi sejatinya saya lebih ingin mencari tahu diri saya sendiri daripada beprestasi, serius.

 

Jadi, apakah saya ‘belajar’?

Itulah pertanyaan yang, sayangnya, baru akan saya jawab di tulisan bagian 2 nanti.

 

And until next time, stay classy. (a la vlog-nya Agung Hapsah)

4 Replies to “Kuliah Belum Tentu Belajar: Menurut Saya (Bagian 1)”

  1. Kak Faathir… It seems like your journey was identical with me:) Mau psikologi (sama komunikasi) trus pindah jurusan senang2 dan gue jadi penghuni kosan juga, (tapi semester 3 kalo gue). Makasih banyak kak insightnya loh!

    1. Hahaha sama-sama Drii! Glad you found it that way 🙂

  2. *Claps*
    Menemukan ini. Membacanya sambil berkaca-kaca (in the same time I was thinking my journey from the beginning). I wish I could share more with Kakak. anyway keep writing yaa Kak. Your writings have power to motivate people ehehe, especially for the same intorverted feeler like me.

    Cheers!

    1. glad you enjoy it! thanks for ur kind response 🙂

Leave a Reply