Kuliah Belum Tentu Belajar: Menghafal dan Open-Book Exam (Bagian 2)

Tokyo University

Beware: Saya orangnya cukup idealis kalau membahas tentang belajar. We may disagree at some point.

Straight outta gate, dalam konteks ‘belajar’, saya (naturally) adalah tipikal orang yang process-oriented (instead of being result-oriented).

So, I really couldn’t care less about my grade. Saya lebih khawatir apakah saya benar-benar belajar atau tidak ketika ada di dalam kelas. Nilai, buat saya, ‘hanyalah’ hasil dari proses yang kita jalani.

Well, idealnya (bagi saya) seperti itu. Paling tidak beginilah yang saya pikirkan (dan lakukan) dari semester 1 sampai semester 3. I often go extra mile di mata kuliah yang saya senang, dan ‘ignorant‘ dengan mata kuliah yang saya tidak tertarik; to the point that I got the score of 8 (out from 100) in my Matematika Ekonomi dan Bisnis mid-term exam while still magically passed at the end.

Compared to my peers and colleagues, my grade (in this period) is slightly ‘mediocre’ but I’m perfectly fine with that; I feel like intellectually ‘growing’.

But this is not always the case.

Sebagaimana mahasiswa Indonesia kebanyakan, saya juga terbawa arus ‘aktif di kepanitiaan dan organisasi’. On the good side, pengalaman itu menjadikan saya lebih dewasa sekaligus mendapat banyak teman. On the flip side, kesibukan yang ada membuat aktivitas di kelas kadang ‘terpinggirkan’ dan membuat saya tidak dapat berproses secara optimal atau ‘seharusnya’.

Saya bukan superman atau that kind of extraordinary people yang bisa excel in both organizational and educational activities; I had to choose.

Maka, yang terjadi saat saya tidak dapat berproses secara optimal adalah berpikir, “Paling tidak nilai akhir aman, supaya nggak perlu ngulang.” Yah, akhirnya saya hanya sekedar hadir di kelas, presentasi, tugas akhir (kalau ada), dan ‘menghafal’ saat minggu ujian. Ini saya alami sendiri ketika semester 4 dan 5.

Grade saya pada periode ini? Mediocre juga (cuman modal hafalan H-1 ujian gitu). Tapi yang parah, rasanya otak ini masih ‘kosong’.

Semester 6 adalah anomali.

Saya tidak terlalu ‘sibuk’ dengan urusan non-perkuliahan compared to 3 semester sebelumnya. So, seharusnya, bisa benar-benar fokus untuk berproses dalam ‘belajar’ di bidang ilmu yang saya dalami.

Tapi…

Semua mata kuliah yang saya ambil di semester ini memiliki pola yang sama, kurang lebih seperti ini:
1. Pertemuan pertama, dosen memberi general overview of the course. Mahasiswa kemudian dipecah menjadi beberapa kelompok presentasi.
2. Dari pertemuan kedua hingga terakhir, secara bergantian kelompok-kelompok tersebut mempresentasikan materi yang ‘dipilihkan’. Presentasi diakhiri sesi tanya jawab. Dosen, biasanya, baru memberi input di sesi ini.
3. Di pertengahan dan akhir masa perkuliahan terdapat ujian. 5 dari 7 courses yang saya ambil ujiannya bersifat open-book. Lalu, terdapat 1 course yang soal ujiannya (menurut saya)…. nonsense alias not challenging at all. 1 course sisanya bersifat close-book seperti biasa.

Saya bukannya mau menyalahkan sistem atau pola, yang mau saya point out adalah: ini tidak cocok dengan saya. Begini penjelasannya:

Presentasi

Saya bingung kenapa mahasiswa (termasuk saya) harus mempresentasikan sesuatu yang bahkan kita sendiri juga belum paham sepenuhnya; sesuatu yang mungkin juga baru kita baca h-1 sebelum presentasi. Tentu saja penyampainnya tidak akan maksimal. Well, kenapa tidak langsung dosennya saja yang memberi penjelasan: it would be much clearer and time-saving.

Presentasi memang penting: guna memastikan mahasiswa benar-benar belajar di kelas, sekaligus menjadi variabel penentu nilai akhir diluar ujian. But then, saya berpikir seharusnya yang dipresentasikan di kelas itu cukup tugas akhir saja; untuk memastikan kita dapat menggunakan ilmu yang didapat di kelas. Percuma kan apabila kita mengerti teori tapi tidak tahu cara menggunakannya.

Ujian Open-Book

Di atas kertas, I like the concept of open-book exam. Alasannya sederhana: kita tidak perlu memiliki mindset ‘menghafal’. Saya percaya mindset ‘menghafal’ tidak akan banyak berguna either di dunia kerja (jika memilih berkarir di perusahaan) ataupun dunia riset (jika memilih berkarir sebagai akademisi) kelak. Menghafal tidak sama dengan berpikir.

Tapi, yang terjadi saat open-book exam kiranya seperti ini:

Biasanya saya baru meminjam buku atau print file presentasi beberapa hari jelang hari H ujian. Biasanya juga, saya baru baca berbagai materi itu hanya beberapa jam jelang ujian; tentu saja tidak semuanya terbaca. In truth, kadang saya tidak membaca; melainkan sekedar scanning.

I thought I will struggle in the exam, as I do not have enough time to simultaneously do these following: examine the question, reading and understanding the theories in the book, select one or more theories appropriate or align with the question, and then write the answer in concise manner. Repeat the process for each question, and of course, 120 minutes is shouldn’t be enough for 5 questions (or more).

But what I found out was… some questions is actually really straightforward, and the answer exists in the book. So, it does not require you to completely understand the theory, let alone thinking outside the box. Just read the question, and then copy-paste the theory from the book; add real world cases and you got an almost, if not perfect, score.

Menurut saya, seharusnya dalam ujian open-book jawaban dari pertanyaan yang disajikan itu tidak dapat ditemukan di buku. Ujian open-book seharusnya mengukur kemampuan mahasiswa dalam memberikan judgement atas sebuah kasus, menggunakan teori yang diasumsikan sudah dimengerti (karena open-book). Pertanyaan yang ada seharusnya menuntut kita untuk berpikir outside the box. Well, this is my expectation tho.

Begitulah penjelasan saya tentang kenapa even when saya mendapat grade yang bagus di semester 6, saya merasa nilai yang saya dapat tidak mengindikasikan seberapa banyak saya belajar.

 

Demikian.

Jadi, menurut kamu, bagaimana seharusnya kita ‘belajar’?

Leave a Reply