Kritisnya Rasa Kritis Gue

Hai! Akhirnya gue balik lagi setelah hampir setahun hiatus menulis di sini.

Kenapa hiatus? Entahlah. I do (really) have a lot of things going through my mind…. but it seems that I can’t translate those thought into a piece of text like usual. Well, mungkin karena terlalu dipusingkan dengan masalah yang nanti bakal gue jadiin bahan tulisan kedepan.

Nevertheless, I’m back and I hope that I can be a productive writer just like before.

Oke, gue rasa udah cukup intronya. Let’s cut to the case.

Liburan kali ini gue habiskan dengan magang di Ruangguru.com (singkatnya, RG). RG adalah startup yang bergerak di bidang Learning Management System (LMS). If that sounds complicated, singkatnya RG pengen supaya kegiatan belajar mengajar di tiap kelas di Indonesia ini nantinya pake sistem yang mereka buat. Buat apa? Dengan menggunakan teknologi, sekolah (dan pemerintah setempat) bakal punya ‘data’ tentang performa siswa selain UN yang cuman setaun sekali (dan gue sendiri cukup ragu dengan kredibilitasnya kalo mengingat pengalaman gue sendiri dulu). Data itu nantinya selaras dan bisa di-compare dengan berbagai sekolah di berbagai pelosok negeri, so in the future we’ll know daerah mana yang siswanya paling pintar di bidang kalkulus, atau geografi.

Kalo lihat di kontraknya, gue di RG berperan sebagai Intern Tutor Recruitment. Stated job description gue adalah memastikan kalo supply tutor untuk RG tetap terjaga, khususnya tutor di sektor aplikasi RG. But karena lagi low season (ya, ini lagi liburan sekolah jadi bisa dihitung dengan jari laah how much siswa yang belajar saat liburan) jadinya gue for a while lebih diarahkan untuk membantu project di luar bidang recruitment.

Nah, di RG ini gue berkesempatan bertemu exceptional Indonesian people(s). Mulai dari temen magang gue yang kuliah di berbagai negara, atau bahkan ada yang baru lulus SMA (yea you read it right). Selain temen magang, gue ketemu juga full-time employee, lead, manager, sampai C-level yang kalo lo lihat CVnya dan melihat mereka in action (not mentioning when not in action lol) they’re super cool (at least for me). Gue sih liat exceptional apa engga-nya dari cara kerja, cara problem solving, sampai pemikiran. Well, sepertinya bertemu orang-orang yang multi-cultural seperti ini is a good preparation sebelum gue exchange ke Jepang selama setahun nanti.

Nah, di suatu hari, salah satu C-level RG yang bernama Belva mengumpulkan anak magang dalam satu ruangan. He said a lot of things, but one thing that matter is dia menanyakan pada seluruh anak magang, “What are you looking for in RG, and what does success in RG means to you?” Ditanya seperti itu, gue mikirnya normatif aja -yaa buat cari pengalaman kerja yang ‘beneran’, pengen tau rasanya kerja di startup, and else. Walau pas disuruh ngomong, gue malah jawab, “Pengen ketemu anak muda yang concern dengan education,” biar keliatan cool lol.

Nah, namun ada satu anak magang yang jawabannya menarik. Namanya Agie, temen magang gue yang lagi kuliah S2 di Edinburgh, UK. Kebetulan sama-sama dari Surabaya dan bahkan berasal dari SMA yang sama lol. He said three reasons, with the last one being, “Pengen tau whether privatisasi pendidikan adalah solusi yang tepat untuk meng-improve pendidikan di Indonesia.” (well nggak persis gini sih, tapi intinya gitu lol). Gue sontak mikir, yaa mungkin dia bisa berpikir sampe segitu karena udah S2 dan tesisnya sendiri memang tentang pendidikan, and he said by himself that education is his passion. But well, he’s definitely have the passion, and that’s the thing that (for me) truly matter.

Why?

Karena things such as bekerja dengan passion really reminds me what do I want to be in this world. Dan sejujurnya belakangan ini gue seolah kehilangan passion, nggak tau mau jalan ke mana. Setelah kalah di pemilihan ketua umum organisasi bulan Januari akhir lalu, gue seolah (dan memang beneran) nggak punya plan B mau ke mana (I promise you I will write a post about this one as this is a life-changing moment for me). Yah, jadilah gue menyusun kembali rencana dari nol. Karena ga sempet kepikiran, maka gue memutuskan untuk memakai strategi yang sama seperti semester awal kuliah: try everything. Jadilah gue daftar exchange, bisnis, lomba, desain, (mencoba) agak serius di akademis, sampai magang. But trying everything ternyata membuat gue malah tambah bingung mau ke mana dan jalan mana yang mau diambil. Jadi akademisi kah, atau terjun di dunia korporat kah, atau bisnis kah, atau konsultan kah, and whatever. Dan one reason why I can’t pick or choose one of those option is simply because gue kehilangan idealisme. Ya, idealisme tentang diri gue, tentang mimpi yang mau gue capai, tentang masa depan gue. Makin ke sini, gue malah jadi nggak ngerti sebenernya bidang yang gue shining and exceptional itu ada di mana.

Ya, gue jadi semakin nggak kritis sama masa depan gue sendiri. Catastrophic.

So, what are you up to, right now?

Saat ini gue berusaha kembali mengambil meaning dari setiap langkah yang gue jalani. Gue juga berusaha nulis lagi, baca banyak hal lagi. Gue mencoba banyak ngobrol dengan banyak orang lagi. Mencari jalan lagi. Ya, gue resmi bertemu dengan problem yang sama seperti di awal masa perkuliahan: finding passion.

Well, as time goes by, dan dengan segala upaya pencarian yang sedang gue lakukan, gue harap masalah passion ini akan segera terpecahkan. Karena tanpa passion, segala hal yang dilakukan akan terasa seperti melakukan hal yang lo nggak suka sama sekali. Karena tanpa passion, segala mimpi seolah tak lagi berarti.

*drop mic*

4 Replies to “Kritisnya Rasa Kritis Gue”

  1. Tir. Tulisan elo (Suroboyo ngomong elo? Wkwk) bagus. Tapi masih campur aduk bahasa inggris. Itu bikin distraksi. Kalau nulis fokus dong. Inggris ya inggris, indo ya indo. Bukan apa-apa, jabatan situ tinggi lho di pers mahasiswa. Hehe keep posting!

    1. HAHAHA thanks berat atas tanggapannya cuuy, berat nih. Anyway gue emang suka campur aduk kalo nulis (lha ini contohnya wkwk). Pake gue-lo karena… yaa udah kebiasaan aja pake itu kalo self-thought (?). Waduh kalo di tulisan yang ini emang ga berniat pake bahasa baku a la tulisan majalah / koran karena gue mengibaratkan ini kayak lagi cerita gitu ke seseorang. Makasih (lagi) yaa udah baca, feel free kalo mau kasih tanggapan hehe, I really appreciate it! 😀

  2. well Kak. Right now I am in the same shoes with you. like, butuh berbagi pengalaman sama kakak, ahahaha

    1. wkwk yuk laah, sebelum ku berangkat

Leave a Reply