Kamu, Senja, dan Semesta

“Tuh, kan. Manusia mana yang tidak jatuh cinta saat melihat senja!” ujar Dion saat menangkapku terpaku melihat panorama di puncak gunung kala itu. Aku terpaksa mengaku padanya bahwa baru pertama kali ini aku berhadapan langsung dengan senja di puncak gunung. Jika kesempurnaan itu tidak ada, maka mungkin momen ini perlu disebut sebagai “kesempurnaan kualitas dua”. Langit yang cerah, udara yang segar dan sahabat yang setia menemani. Kenikmatan mana lagi yang kamu dustakan?

Sembari menunggu Dion yang sibuk dengan kamera Canon-nya demi feed instagram yang lebih baik, aku memilih duduk sendiri dan berusaha menikmati senja selama mungkin. Ini senja pertamaku, dan aku sudah jatuh cinta dibuatnya. Beberapa saat menikmati senja membuatku banyak bertanya.

“Dapatkah aku memilikimu selamanya, wahai senja? Atau kalau tidak, dapatkah engkau selalu ada untukku, wahai senja?”

Tak lama, senja mulai bersiap akan kepergiannya. Langit yang makin temaram menjadi bukti. Dion semakin bersemangat memotret, berharap ia dapat menangkap sang surya padam sejajar dengan garis langit. Sejenak, aku mulai percaya bahwa Dion adalah makhluk yang dikirim turun ke bumi untuk menjadi pengagum senja.

“Wahai senja, apa mungkin kau terlalu indah, hingga aku belum pantas untuk sekedar berlama bersamamu? Tak bisakah aku menjadi pujanggamu?”

Pada titik itu aku hampir tidak percaya bahwa aku telah jatuh cinta pada tatap pertama. Buatku senja telah menjelma menjadi semesta, sesuatu yang memberikan kehidupan bagi para pengagumnya.

“Aku tidak ingin sekedar menjadi pengagummu, senja. Aku tidak ingin sama seperti mereka yang juga mengagumimu. Aku ingin menjadi satu-satunya pujanggamu, yang terus bersamamu tanpa peduli waktu.”

Tak perlu menunggu lama hingga senja pergi dan menyisakan gelap. Aku dan Dion tidak langsung turun, memilih untuk menikmati bintang di tengah temaram. Tapi tetap saja pikiranku belum bisa lepas tentang senja.

“Tunggu saja aku, senja. Aku akan mencarimu di kemudian hari. Kita memang belum saling mengenal dan tak tentu kapan bertemu lagi, tapi aku percaya kelak pesan dan perasaan ini akan tersampaikan. Entah bagaimana caranya. Tunggu saja aku, senja. Tunggu saja..”

“Hei! Kamu dari tadi melamun apa sih? Yuk pindah ke spot lain, di sana kayaknya lebih enak buat duduk,” Dion seketika membuyarkan pikiranku. “Hehe biasalah lagi mikir aja, yuk lah,” jawabku sekenanya.

Senja kali ini terus saja mengingatkanku,
Akan segala tentang kamu,
Seolah senja adalah jelmaan dari dirimu.

Aku tak ingin bergabung dengan para pengagummu,
Aku ingin menjadi pujangga kesayanganmu,
Agar aku abadi pada setiap bait yang menginginkanmu,
Agar aku abadi pada setiap bait yang membahagiakanmu.

Selayaknya pesan yang kutulis untuk senja,
Sesungguhnya pesan ini pula yang akan kutulis untukmu.

Selayaknya bait yang kutulis untuk senja,
Sesungguhnya bait ini pula yang akan kutulis untukmu.

One Reply to “Kamu, Senja, dan Semesta”

  1. Tulisannya bagus. Tapi sepertinya begitu mengagumi senja. Bukankah senja begitu singkat?

Leave a Reply