Kala Senja

Tepat pukul 5. Sore itu berlalu seperti biasanya: matahari yang pergi perlahan, dan barisan kendaraan yang memadati jalan. Mobil kami termasuk di dalamnya; menghadapi macet yang bahkan belum puncaknya.
“Aduh, kalau seperti ini terus, kita bakal tiba jam berapa ya?” kamu mulai beretorika, pertanda mulai dihinggapi cemas.
“Santai aja, kali. Dinikmatin aja,” aku berusaha menanggapi.
“Mau dinikmatin gimana coba? Kamu nggak kesel kena macet gini?”
“Justru sebaliknya. Malah, aku punya dua alasan untuk menikmati saat-saat begini.”
“Apa?”
“Pertama, menghabiskan senja,” jawabku. Kamu sesaat tampak hendak menyela, tapi akhirnya urung karena teringat kalau menghabiskan senja merupakan semacam hobi untukku.
“Kalau yang kedua?”
“Bersamamu.”
“Ih. Dasar nyebelin.”
Catatan: Entah kenapa gue ga terlalu suka bikin line cheesy gini, soalnya kalo divisualisasikan, yang ada di pikiran gue jadi semacam dialog ala FTV gitu.

Leave a Reply