Idealisme Berkarya

“Tapi sebelah mataku,
yang lain menyadari,
gelap adalah teman setia,
dari waktu-waktu yang hilang.”Β 
(Efek Rumah Kaca, Sebelah Mata)

Pertama kali denger lagu ini di channel YouTube @soundsfromthecorner (mereka collab sama @barasuara, spoiler alert: super cool), gue langsung kepoin band-nya. Liriknya gokil. Rasa-rasanya kalimat macam “Terbentuk dari sel akut” dan “Sebuah proses yang alami” kaga ada puitis-puitisnya, tapi pas didengerin di lagunya bisa pas dan bermakna dalam.

Baru tau juga mereka bakal vakum (lagi) karena vokalisnya, Cholil Machmud, memutusukan tinggal di AS selama beberapa tahun untuk nemenin istrinya kuliah.

Kalo dari yang gue baca di internet, Cholil ternyata ga cuman kerja sebagai vokalis, tapi juga kerja kantoran. Menarik, karena dengan gitu dia bisa tetep idealis dan menjadi diri sendiri dengan musiknya. Mau musiknya laku apa kaga, dia tetep bisa makan dan menghidupi keluarganya.

Hal serupa juga gue dapet pas baca biografi beberapa musisi yang tidak memilih nyambi kerja kantoran. Mereka ga cuman punya 1 proyekan / band, tapi punya kerjaan lain juga, entah nyambi jadi produser atau punya solo album sendiri.

Jadi gitu. Insight-nya mirip-mirip sama ceritanya @caseyneistat yang pernah gue post (doi harus kerja serabutan dulu untuk menunjang passion-nya di filmografi, sekarang sudah sukses) dan nasihat dari bosq-panutanq @erdiprtm saat mendengarkan curhatan gue tempo hari lalu: di dunia ini lo bisa jadi apapun, tapi tetep, berkarya adalah sebuah kebutuhan dan seharusnya jadi yang utama.

Berkarya adalah tentang menjadi diri lo sendiri, mencegah lo menjadi zombi: hidup (raganya) tapi mati (pikirannya).

Semoga kelak gue yang cupu dan suka nggak jelas ini bisa menelurkan karya keren selayaknya mereka yang namanya gue sebut di atas.

Leave a Reply