GAP, Oscars, dan Perlunya Belajar Desain Grafis

Logo baru GAP pada tahun 2010 yang kontroversial. Sumber: gaia.adage.com

“Jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya; jangan menilai buku hanya dari cover-nya.”

Begitu bunyi pepatahnya, namun tak demikian kenyataannya.

Tidak percaya? Coba perhatikan logo GAP di atas. Sisi sebelah kiri adalah logo GAP yang lama, sedangkan sisi sebelah kanan adalah logo GAP yang baru pada tahun 2010.

Asumsikan ini adalah pertama kalinya Anda mengetahui sebuah merk bernama GAP. Produk apa yang terlintas di benak Anda saat melihat logo di sebelah kiri? Coba bandingkan jawaban Anda dengan logo di sebelah kanan. Logo GAP lama dengan desain minimalis meninggalkan kesan modis, sedangkan penggunaan font kapital dengan tipe serif (adanya garis kecil pada tiap ujung) mengesankan nilai mewah. Logo baru GAP 2010, ironisnya, justru lebih mirip dengan logo-logo perusahaan konsultan.

Logo PricewaterhouseCooper (PWC), perusahaan yang bergerak di bidang jasa audit. Bernuansa mirip dengan logo GAP 2010, bukan?

Jadi, meski memiliki ‘bacaan’ yang sama, image yang dihasilkan dari perubahan logo yang nampak sederhana ini ternyata begitu berbeda.

(GAP adalah sebuah brand fashion dari Amerika. Pada 2010 mereka sempat mengganti logo yang memicu kritik besar-besaran dari konsumennya karena dinilai tidak modis dan mencerminkan sebuah fashion brand. Hanya butuh waktu kurang dari seminggu bagi GAP untuk kembali menggunakan logo lamanya.)

 

Desain dan Pengaruhnya Terhadap Sebuah Keputusan

Di era yang semuanya serba kompetitif dan serba kreatif seperti sekarang, permintaan pasar atau perusahaan terhadap mereka yang mahir dalam desain grafis sedang tinggi-tingginya. Desain grafis saat ini adalah komoditas yang dapat menentukan keunggulan satu produk dibanding yang lain, apalagi di masa-masa seperti sekarang; yang mana konsumsi masyarakat akan media digital terus ‘melompat’.

Desain sebuah produk dapat memengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Sebagai mahasiswa, contoh sehari-hari yang bisa saya berikan adalah poster open recruitment sebuah kepanitiaan atau organisasi.

Contoh poster Open Recruitment 1: Organisasi A
Contoh poster Open Recruitment 2: Organisasi B

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asumsikan kedua poster di atas diberikan kepada Anda pada saat yang sama. Poster mana yang lebih persuasif, yang lebih menarik minat Anda untuk bergabung?

Menurut saya, poster A (kiri) terlewat sederhana; terlalu banyak teks (menyebabkan overload information) sehingga kurang menarik di mata. Bandingkan dengan poster B (kanan) yang to the point (tidak banyak teks namun kita tetap dapat mengerti pesan dari poster), terlihat kompleks namun meninggalkan kesan elegan.

Kemampuan desain grafis tidak sekedar dibutuhkan untuk menarik minat konsumen, tapi juga untuk membentuk ‘citra’ sebuah produk dan perusahaan atau organisasi itu sendiri. Bahkan, desain grafis dapat menentukan apakah sebuah organisasi terlihat ‘serius’ dan ‘profesional’ atau tidak. Segala keluaran yang dihasilkan perusahaan atau organisasi, mulai dari flyer, poster, hingga produk, adalah representasi atau ‘muka’ dari sebuah organisasi, sehingga masyarakat akan dengan mudahnya menilai sebuah organisasi hanya berdasarkan keluaran yang mereka lihat.

Contohnya? Anda dapat kembali melihat poster A dan B di atas. Apa penilaian Anda terhadap organisasi A setelah melihat poster open recruitment mereka? Apakah akan sama dengan penilaian terhadap organisasi B?

Pada kenyataannya, keluaran atau output mencerminkan nilai (value) hingga kualitas yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri. Sehingga, memiliki desainer grafis yang mumpuni adalah kewajiban bagi setiap perusahaan.

 

Apa dampak bagi perusahaan jika memiliki desainer grafis yang kurang mumpuni?

Simak gambar di bawah ini:

Kartu pengumuman pemenang Oscars yang dibawa dan dibacakan oleh MC di atas panggung. Kartu sebelah kiri adalah yang asli, sedagkan yang kanan adalah hasil desain ulang. Apakah Anda menyadari perbedaan yang dihasilkan? (kredit: Benjamin Bannister)

Oscars adalah ajang penganugerahan bidang seni film paling prestisius di dunia, diadakan tiap tahun di Amerika Serikat. Gambar di atas (sebelah kiri) merupakan kartu yang diberikan oleh penyelenggara Oscars kepada MC di atas panggung. Insiden yang terjadi (secara ringkas) adalah:

  1. Penyelenggara memberikan kartu yang salah; kartu yang diberikan berisi pemenang ‘Best Actress’ atau aktris terbaik, sedangkan pada saat itu MC sedang akan mengumumkan pemenang untuk kategori ‘Best Picture’ untuk sebuah film
  2. MC di atas panggung sempat kebingungan, namun akhirnya di atas panggung mereka menyebut ‘La La Land’ sebagai pemenang kategori ‘Best Picture’. MC tidak menyadari adanya tulisan ‘Best Actress’ yang terletak di bagian bawah kartu dengan font yang kecil.
  3. Saat para perwakilan La La Land memberikan ‘winning speech‘ di atas panggung, penyelenggara panik dan baru menyadari jika mereka memberi kartu yang salah. Sontak, speech dari perwakilan La La Land dipotong di tengah-tengah oleh penyelenggara, untuk mengumumkan siapa pemenang sebenarnya (yakni film ‘Moonlight’) serta memberi tahu penonton bahwa telah terjadi kesalahan.

Penyebab utama MC tidak menyadari adanya kesalahan: desain kartu yang ‘membingungkan’. MC tidak dapat melihat adanya tulisan ‘Best Actress’ yang terletak di bagian bawah, apalagi dengan ukuran font yang kecil. Kejadian ini membuat Oscars dan pihak penyelenggara sangat kehilangan muka di hadapan penonton dan khalayak dunia film.

Seandainya saja kartu tersebut di-desain secara benar, mungkin MC dapat menyadari adanya kesalahan dalam pemberian kartu sehingga kejadian di atas dapat dihindari. Oscars dan penyelenggara tidak perlu meminta maaf sebesar-besarnya dan kehilangan reputasi.

Jadi, sudah jelas kan mengapa desainer grafis yang mumpuni begitu dicari oleh perusahaan?

Masih belum yakin?

 

Desain grafis adalah kemampuan yang dapat dipelajari oleh semua orang di semua umur.

Saya memiliki banyak teman yang belajar desain secara otodidak. Cukup bermodalkan niat, komitmen, dan koneksi internet, siapa saja dapat belajar dan menjadi desainer; bahkan tidak diperlukan latar belakang pendidikan apapun. Ada banyak sekali tutorial yang dapat anda temukan di Google atau YouTube. Jika Anda ingin lebih serius, seperti ingin mendapat sertifikasi atau belajar dalam situasi yang lebih kondusif, tentu Anda dapat mempertimbangkan untuk mengikuti kursus desain yang banyak tersedia.

 

Belajar desain grafis adalah investasi.

Mulai dari bekerja di perusahaan hingga menjadi pekerja lepas (freelancer), kemampuan desain dapat membawa Anda ke mana saja. Dengan permintaan pasar yang begitu luas, Anda relatif tidak akan menemukan kesulitan dalam menemukan pekerjaan; apalagi jika Anda memiliki sertifikasi atau portofolio yang memadai.

Kemampuan desain grafis juga seharusnya dimiliki oleh mahasiswa, dan minimal para manager. Ini dibutuhkan saat Anda harus menyiapkan presentasi di hadapan dosen atau atasan Anda. Ingat! Segala keluaran atau output yang Anda hasilkan adalah ‘cerminan’ atau ‘muka’, sehingga seberapa seriusnya Anda, hingga seberapa profesional-nya Anda di hadapan klien, dapat terlihat dari desain presentasi yang Anda tampilkan.

 

Jadi, sudah siapkah Anda belajar desain grafis mulai sekarang?

Leave a Reply