My Exchange Story! – 01: Brand New Adventure

Pesan itu gue terima beberapa hari setelah bolak-balik ke International Office Universitas Indonesia (IO UI). Beberapa minggu sebelumnya, gue daftar buat Exchange Program ke Tohoku University, Sendai, Jepang. Gue sendiri sebelumnya belum pernah daftar exhcange, so this is a whole new thing for me. Buat gue, mungkin bukan cuman pengalaman ‘baru’, tapi juga ‘mengejutkan’.

Truth to be told, sebenarnya gue tidak merencanakan exchange di tahun 2016 –rencana awalnya sih tahun 2017. Terlalu banyak konsekuensi dan opportunity cost yang harus di ambil (more on that later) kalo berangkat tahun ini. So, untuk tahun 2016 gue punya rencana melakukan hal lain yang juga sudah direncanakan sejak jauh hari.

Kenyataannya, it turns out ‘hal lain’ itu tidak berjalan sesuai rencana sehingga membuat gue nggak tahu harus ngapain lagi di tahun 2016. Kehidupan kuliah terasa terlalu membosankan buat gue (bukan materinya, tapi rutinitasnya).

Jadi, saat itu gue cuman punya dua pilihan life plan:

  1. Exchange 2017, lalu menggunakan sisa 2016 untuk bisa sidang di semester 7 (tapi baru wisuda setelah exchange) dan mengoptimalkan revenue dari bisnis kost-an.
  2. Exchange 2016, sisa semester 6 dibuat fun aja (tentu sambil ngurus kost-an). Dipastikan lulus telat, most likely telat setahun.

Well, gambar di atas menunjukkan bahwa gue pada akhirnya memilih opsi kedua yang sekilas tampak tidak rasional. Waktu itu sih beberapa pertimbangan gue adalah:

  1. Orang di International Office bilang kalo exchange itu paling lambar di semester 7 (since beberapa program exchange kampus di luar negeri menysaratkan begitu).
  2. I’m not entirely sold in the idea of ngerjain skripsi di semester 7.
  3. Saat itu gue lagi butuh banget ‘membuktikan-pada-diri-sendiri’ bahwa gue tidak worthless as a human. Walau exchange (menurut gue) bukanlah big achievement (since cuman ngumpulin berkas dan wawancara), but I feel like I in a dire need of achieving something terlepas dari besar-kecilnya pencapaian tersebut, for the sake of my self-efficacy and self-confidence yang saat itu sedang terjun bebas.

Begitulah pertimbangan yang muncul di kepala gue, and the rest is history.

 

Wait, kenapa sejak awal udah minat ikutan exchange program?

Alasannya serupa dengan hal yang gue pikirkan saat dulu memutuskan untuk berjuang merantau di UI, yakni for the sake of self-development. Bukannya gue udah merasa ‘jago’ atau udah ‘fully-developed’ selama di UI, but I need a brand new challenge, a brand new adventure. Melihat dunia luar, ‘mengasingkan diri’ dalam jangka waktu yang cukup lama, bertemu orang baru di dunia yang sama sekali baru, bertemu pemikiran dan sudut pandang baru. Udah sejak lama juga gue bermimpi untuk travelling around the world.

Keinginan untuk pergi keluar dari Indonesia semakin besar saat gue dilanda rasa jenuh yang memuncak. Itu muncul saat gue menjalani semester 6 (akhir 2015). Gue merasa layaknya orang yang ‘kurang piknik’, terlalu banyak ekspektasi dan terlalu banyak kekecewaan.

 

Kenapa Jepang? Otaku?

Sejujurnya, tidak ada alasan yang spesifik kenapa Jepang. It can be Europe, or US, or even ASEAN. Simply karena kebetulan yang pendaftarannya dibuka pas gue main ke International Office UI ya itu. Gue ga bisa bahasa Jepang dan bukan penggemar produk Jepang juga. Well, gue baru mikir, “Kenapa Jepang ya?” itu malah setelah gue lolos seleksi. Ternyata ada beberapa kampus dari negara lain yang buka pendaftaran dan kerjasama dengan UI, mulai dari Belanda, Singapore, Korea, Malaysia, dan lain-lain.

Tapi ya sudahlah, disyukuri saja. Toh dapet beasiswa juga.

 

Awalnya gimana sih?

Mengumpulkan Berkas

Karena sudah ‘dimimpikan’ sejak jauh hari, maka exchange ini juga udah disiapin sebelum 2016. Lebih tepatnya: Oktober 2015. Sekitar bulan itu, gue dan sahabat gue yang bernama Riwan iseng main ke International Office (IO) UI. Kebetulan kita sama-sama punya mimpi pengen exchange, cuman belum punya rencana yang konkrit. Gue sendiri juga baru tau kalo ngurusnya ke IO (gue kira harus daftar sendiri ke kampus tujuan) setelah ngobrol dengan Bertha, temen gue di Economica yang kebetulan juga minat exchange.

Setelah nanya Mbak IO, syarat utama exchange di UI itu sebenernya cuman empat:

  1. Letter of Recommendation (bisa diurus sendiri di Fakultas, dapetnya juga cukup mudah)
  2. IPK di atas 3.30
  3. TOEFL (kalo yang PBT di atas 550) atau IELTS di atas 6.5
  4. Setelah lolos berkas, nanti harus melalui seleksi wawancara sama IO kalo misal jumlah pendaftar lebih banyak daripada kuota penerimaan.

See? That’s it and you’re done. Kebetulan IPK gue waktu itu mepet sama persyaratan, jadi tinggal ngurus Letter of Recommendation dan TOEFL aja. Kebetulan (lagi) di UI ada lembaga yang menyelenggarakan tes TOEFL tiap bulannya yaitu LBI FIB UI. Engga nunggu lama, bulan depannya gue iseng nyoba tes TOEFL (yang Paper Based / PBT karena murah –cuman around 450rb around that time) dan dapet skor 577. Karena berlaku dua tahun jadi lumayan laah. Tinggal ngurus Letter of Recommendation aja.

Kenyataannya, gue baru ngurus Letter-nya pas Februari 2016. Proses pembuatan Letter of Recommendation memakan waktu 1-2 minggu, tergantung dari birokrasi Fakultas. Oh iya, sebelum membuat Letter, harus udah ditentukan dulu mau exchange ke mana. Karena yang buka pendaftaran waktu itu Tohoku (Waseda juga buka, cuman gue ga milih itu karena terlalu Economics). Voila dan jadilah gue menyerahkan semua berkas gue ke IO.

Setelah Mengumpulkan Berkas

Beberapa hari setelahnya gue dihubungi oleh IO untuk follow up proses wawancara. Yah, ternyata yang daftar lebih banyak dari kuota *lah*.

Di hari yang dijanjikan itu datanglah gue ke IO, dan mendapati bahwa ada sekitar delapan orang yang mendaftar di program yang sama dengan gue (Tohoku University). Gue mendapati pula kalo yang berangkat ke Tohoku kata Mbak IO-nya cuman 2-3 orang. Iseng gue liat kertas yang dipegang Mbak IO-nya, isinya adalah daftar orang yang daftar exchange ke Tohoku ini lengkap dengan informasi mereka. Ternyata yang daftar itu hampir semuanya ber-IPK di atas 3.5, bahkan ada beberapa yang nyampe 3.8. Dan gue, IPK-wise, merupakan pendaftar yang paling cupu (waktu itu cuman 3.38, not even close).

Wawancara

Ternyata….. wawancaranya cuman sekitar 5 menit. Secara garis besar, pertanyaan yang diajukan cuman dua (wawancaranya in english):

  1. What do you want to do in Japan? (gue sih berusaha menghubungkan Jepang dengan studi yang saat ini gue ambil, berkaitan dengan Manajemen dan Ekonomi)
  2. How do you accomplish your goal in Japan?

Gue menyadari bahwa IPK-wise gue ga punya competitive advantage, maka gue perlu menunjukkan ‘kelebihan’ lain yang gue miliki. Sekitar satu menit sebelum masuk ke ruang wawancara, gue buka silabus mata kuliah program exchange di Tohoku dan menentukan gue harus ambil course apa. Jadilah gue pas wawancara dengan mantap menjawab pertanyaan kedua dengan bilang, “If I’m accepted in this exchange program, I already know what course(s) to take according to the goal(s) I stated before. The course(s) is…..” (tentunya ga persis, tapi kurang lebih kayak gini). Oh iya, program yang gue ikuti namanya International Program In Liberal Arts (IPLA). Untungnya materi Liberal Arts yang ada di silabus Tohoku masih nyambung sama jurusan yang gue ambil di UI (Manajemen, konsentrasi SDM).

*P. S. In the end, gue nggak bener-bener tahu apakah hal di atas berpengaruh banyak sama hasil yang gue terima.*

 

Sekian cerita pertama dari gue. Berikutnya gue akan cerita tentang pengalaman bikin visa, ngurus tiket dan akomodasi untuk di Jepang nanti. See yaa!

Leave a Reply