Berujung Titik: Serpihan Pertama

Tak terasa, sudah cukup lama saya tidak menulis cerita apapun di jurnal kesayangan ini. Padahal dari bulan November (saat terakhir kali saya menulis penggal kehidupan) hingga detik ini, sudah banyak sekali kejadian yang begitu merubah alur hidup saya, sekaligus memberi banyak pelajaran buat perjalanan kedepan.

Move on from your comfort zone adalah falsafah hidup saya saat semester tiga. Saya benar-benar mengambil semua kesempatan di berbagai tingkat, entah itu paguyuban, akademik, maupun organisasi. Saya ingin merasakan berada dibawah tekanan, ekspektasi yang tinggi tak hanya dari orang lain namun juga dari diri sendiri.

Akhirnya, ketika Desember, saya mengalami burnout, kelelahan karena sepanjang semester tiga sudah dipaksa berlari dengan mata kuliah yang cukup berat, berbagai kepanitiaan yang tanpa henti menuntut perhatian, dan suasana hati ketika itu yang, well, hancur lebur.

Parahnya lagi, dengan kondisi seperti itu saya masih menuntut kepada diri saya untuk mendapatkan indeks prestasi alias GPA yang diatas 3.5, sesuatu yang bahkan belum pernah saya capai sebelumnya di dua semester awal yang secara akademik jauh lebih ringan dari semester tiga ini dengan kesibukan sekarang yang sudah sedikit out of control. Tuntutan ini muncul dari dalam diri sendiri karena saya merasa harus membuktikan kepada diri sendiri terlebih dahulu bahwa saya sebenarnya memiliki kemampuan untuk meraih GPA tinggi, sebelum mulai fokus melatih diri sendiri ke hal-hal yang berbau soft skill dan menambah pengalaman.

Ajaibnya, tuntutan saya terpenuhi. Tentu melihat senyum bangga di wajah kedua orang tua tidak bisa lebih menyenangkan lagi. Memang, mereka tidak pernah menuntut, but they do deserve it.

Pada bulan Januari, saya tidak bisa bebas berkelana karena harus menyelesaikan satu tugas terakhir di paguyuban yang saya pimipin: sebuah roadshow pengenalan Universitas Indonesia ke berbagai SMA di pelosok Surabaya, lengkap dengan tryout dan seminar. Di sana saya memiliki peran rangkap sebagai controller, bertugas mengawasi jalannya keuangan. Tentu ini merupakan pengalaman dan kesempatan yang sangat menyenangkan, selain bisa mengawasi kepanitiaan dengan arus uang belasan hingga puluhan juta, menghadapi karakter berbagai orang yang bermacam rupa, kesempatan melatih kemampuan public speaking dengan beragam jenis audience nyaris tiap hari selama dua minggu, dan tentu kesempatan pseudo-travelling dengan berkelana ke berbagai pelosok Surabaya dengan mobil yang setia menemani. Dan, saya baru sadar kalau menyetir ternyata sangat menyenangkan.

Karena agenda Januari yang padat, burnout level yang ada pun semakin tinggi. Walhasil, awal Februari pun saya jalani dengan perasaan lelah dan tidak nyaman. Rasanya seperti kehilangan motivasi dan seperti ingin istirahat saja. Padahal, di semester empat masih ada kepanitiaan dan segala aktivitas organisasi yang setia menemani, ditambah dengan proyek kos-kosan dari yang harus ditangani. Apalagi dengan tuntutan GPA yang masih sama. Ibarat seseorang yang sudah berlari satu putaran dan lelah namun dipaksa untuk berputar sekali lagi.

Namun mengeluh tak pernah menyelesaikan apapun, pada akhirnya saya pun memilih berlari, walau kondisi mental sudah letih, fisik juga sudah terasa pening. Saya berusaha mengambil pendekatan yang berbeda untuk semester ini. Saya hanya ingin bersenang-senang dengan hidup, bisa jalan-jalan naik kereta komuter, pulang ke rumah tanpa beban selain akademik, serta secara perlahan mulai memberikan sesuatu untuk organisasi yang sering saya nomor duakan setahun belakangan.

Kemudian, sesuatu datang secara tak terduga. Aku bingung ingin menamainya apa, namun puisi-puisiku selalu menyebutnya dengan satu sapaan akrab, ‘semesta’.

(bersambung)

Leave a Reply