Belajar Bisnis Online dari Negeri Sakura

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pertumbuhan, perkembangan, dan prospek industri e-commerce di Indonesia sedang tinggi-tingginya. Hal ini diikuti dengan bermunculnya berbagai platform (wadah) yang sangat beragam.

Sebagai contoh, telah terdapat wadah yang menjual segala produk (general online marketplace) seperti: Bukalapak, Tokopedia, Lazada.

Terdapat pula wadah yang fokus menjual produk dengan kondisi yang spesifik seperti: Qlapa (produk buatan lokal), OLX dan GudangBabe (barang dengan kondisi bekas).

Terakhir, terdapat wadah yang spesifik menawarkan cara pembayaran yang unik seperti Cicil.

Dan tentu saja masih banyak lagi jenis wadah yang belum saya sebutkan.

Namun, hal ini tidak menandakan telah habisnya market niche (segmen pasar) baru yang belum dijangkau. Bahkan, sejatinya saya yakin bahwa masih lebih banyak ide potensial yang belum direalisasikan ketimbang ide yang sudah muncul. This is a disruptive era, after all.

Selama kurang lebih enam bulan terakhir saya mendapat kesempatan untuk belajar di Tohoku University, Jepang. Selama itu pula, saya aktif memanfaatkan berbagai wadah e-commerce di Jepang. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa masih adanya ide tentang wadah e-commerce yang belum populer di Indonesia, yang mungkin tak lama lagi akan muncul.

Penasaran? Yuk, ikuti penjelasan saya di bawah ini!

Kondisi e-commerce di Indonesia: Terus Tumbuh

sumber: Statista

Tabel di atas menunjukkan total nilai transaksi atau penjualan yang terjadi secara online antara pedagang ke konsumen (B2C) pada tahun 2015-2016. Diprediksi pula prediksi bahwa nilai total transaksi dalam e-commerce bukan lagi tumbuh, akan tetapi lompat hingga 313% dalam jangka waktu enam tahun (2015-2021). Predikisi tersebut menurut saya cukup realistis, mengingat terus meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Coba simak tabel berikut ini:

Yang menarik adalah prediksi yang menyatakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2017 akan lebih banyak dibandingkan dengan Jepang yang notabene merupakan negara yang sangat ‘melek’ teknologi. Hal ini terbantu oleh makin mudah dan murahnya akses internet di Indonesia; mulai dari tarif data yang kompetitif hingga makin banyaknya keberadaan ponsel pintar (smartphone) murah yang mudah dijangkau oleh masyarakat kelas menengah (kelas paling dominan secara jumlah) dan masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman.

Intinya, kita tidak perlu mengkhawatirkan perkembangan penggunaan e-commerce di Indonesia.

Kondisi e-commerce di Jepang: Tak ada pemain baru

Situasi di Jepang cukup berbeda dengan Indonesia, di mana tidak terdapat banyak startup atau wadah e-commerce baru yang bermunculan.

sumber: Statista

Situs e-commerce paling populer di Jepang adalah Amazon, disusul oleh Rakuten (yang kebetulan namanya akan menghiasi kaus klub sepak bola Barcelona mulai musim depan). Tidak ada satupun dari sepuluh situs tersebut yang tergolong startup; semuanya adalah perusahaan yang telah berdiri sejak lama dan memiliki nama besar di Jepang.

Di Indonesia, rasanya tiap bulan kita dapat melihat startup e-commerce baru bermunculan; masing-masing menawarkan hal atau spesialisasi baru yang sekiranya belum ada. Hal ini tidak berlaku di Jepang; didukung oleh karakteristik masyarakat Jepang yang terbilang loyal terhadap sebuah brand sehingga cukup menyulitkan pemain baru untuk masuk.

Ya, memang tidak banyak inovasi ‘baru’ dalam bidang e-commerce di Jepang. Namun, bukan berarti kita tak bisa mengambil pelajaran.

Menggunakan e-commerce di Jepang: Pengalaman saya dengan Amazon

Selama enam bulan tinggal di Jepang, saya sering sekali menggunakan Amazon Japan; mulai dari membeli hingga menjual barang. Alasan saya klasik: harga di Amazon lebih murah jika dibandingkan dengan di toko retail offline (barang yang saya beli adalah kamera dan serba-serbinya). Selain itu, seperti halnya Bukalapak atau Tokopedia, Amazon juga dapat menjadi wadah membeli dan menjual barang bekas.

Saya sendiri pernah menggunakan Bukalapak dan Amazon Japan untuk menjual barang bekas. Berikut perbedaan signifikan di antara keduanya:

  1. Biaya penjualan.

Saat menjual barang di Tokopedia atau Bukalapak, anda akan mendapatkan sesuai dengan harga yang anda tetapkan. Anda hanya akan mengeluarkan uang jika menjadi premium merchant untuk mendapatkan status verified atau memasang advertisement agar barang anda lebih mudah ditemukan oleh calon pembeli.

Amazon Japan memiliki mekanisme yang berbeda. Amazon menetapkan charge atau biaya pada setiap barang yang Anda jual, disebut sebagai Amazon referral fee. Biaya ini berkisar antara 8-15% dari harga jual barang Anda, tergantung dari jenisnya (elektronik, media, makanan, atau lainnya). Selain itu, terdapat juga biaya per item fee sebesar 100 yen (sekitar Rp12,000) untuk setiap barang yang terjual. Terdapat pula opsi untuk menjadi professional user (sebutan untuk premium merchant) dengan membayar biaya subscription sebesar 4900 yen (sekitar Rp586,000) per bulan. Keuntungan yang didapat adalah dihapuskannya biaya per item fee. Hal ini berarti anda harus menjual barang minimal 49 buah per bulan untuk ‘balik modal’.

  1. Opsi pengiriman dan setor barang oleh Amazon.

Ya, Amazon juga dapat mengirimkan barang yang terbeli. Jika menggunakan opsi ini, penjual tidak perlu repot mengirimkan dan menyimpan barang. Cukup ‘setor’ barang jualan kita di gudang Amazon, dan jika ada pemesanan maka Amazon akan mengepak dan mengirimnya menggunakan jasa kurir mereka. Amazon juga akan melayani retur, customer service, fitur bayar dengan cash, dan same-day shipping. Selain itu. barang yang dikirim langsung oleh Amazon akan terlihat lebih ‘terpercaya’ karena pelanggan dapat memastikan bahwa barang yang mereka inginkan memang benar-benar ada atau bukan fiktif. Sebagai penjual, kita hanya membayar storage fee dan shipping fee.

Menggunakan e-commerce di Jepang: Lelang

Selain Amazon, salah satu platform yang populer digunakan di Jepang adalah Yahoo Auction. Berbeda dengan persepsi ‘lelang’ di Indonesia pada umumnya, di Yahoo! Auction barang yang ‘dilelangkan’ tidak terbatas pada barang-barang seni saja. Bahkan hanya dari membuka layar utama atau homepage-nya saja, kita sudah disuguhi oleh berbagai macam pilihan layaknya situs e-commerce pada umumnya.

Tampilan muka Yahoo Auction Japan

Harga yang didapatkan pun beragam; boleh dibilang tergantung keberuntungan. Positifnya, harga yang kita (pembeli) dapatkan bisa jadi jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan di Amazon, atau sedikit lebih mahal (kalaupun lebih mahal, selisihnya tidak akan jauh berbeda). Negatifnya, pembeli harus menunggu hingga ‘durasi’ lelang selesai. Tidak perlu khawatir terhadap upaya ‘penikung’ alias mereka yang bid di detik-detik akhir; Yahoo Auction otomatis akan memperpanjang masa lelang setiap ada bid baru yang masuk.

Sebagai perbandingan, pada Desember lalu saya membeli satu paket kamera mirrorless Olympus OM-D EM-10 bekas di Amazon seharga 39,000 yen (sekitar Rp4,680,000). Pada Maret lalu, saya mengecek harga di Yahoo Auction dan mendapati bid yang ada saat itu adalah 15,000 yen (sekitar Rp1,800,000) dengan kondisi batas akhir bid yang hampir usai.

Sebagai penjual, Anda dapat menetapkan bid minimal dan bid maksimal pada barang yang dijual; yang berarti seorang bidder dapat langsung dinyatakan sebagai pemenang jika ia menyanggupi bid maksimal yang Anda pasang.

Kenapa platform lelang tidak begitu populer di Indonesia?

Saya sendiri pernah menanyakan pertanyaan ini di Selasar, sayangnya tidak viral.

Menurut saya, hal ini karena adanya memang persepsi masyarakat tentang ‘lelang’ itu sendiri masih terbatas pada barang antik atau koleksi seni saja. Selain itu, di Jepang, masyarakatnya memiliki kultur untuk menjual lagi barang yang tidak terpakai dengan harga yang sangat murah; saya pernah iseng menanyakan harga jual kamera EM-1o saya di toko bekas dan dihargai 14,000 yen, pernah juga menjual baju bekas teman saya, satu baju dihargai 10-20 yen (sekitar Rp1000 saja! Tidak cukup untuk sekedar mengganti ongkos perjalanan).

Bagi orang Jepang, menjual barang bekas kurang lebih sama dengan ‘membuang sampah’.

Sedangkan di Indonesia, daripada dijual murah, lebih baik disimpan sendiri saja; atau diberikan ke keluarga atau kerabat yang membutuhkan.

Jadi?

Bagaimana menurut Anda?

Apakah kelak Bukalapak atau Tokopedia akan membuka jasa pengantaran barang secara mandiri layaknya Amazon?

Mungkinkah kelak akan muncul platform bisnis online dalam bentuk lelang?

Mari berdiskusi!

 

Daftar pustaka dan referensi bacaan lebih lanjut:

statista.com/statistics/280925/b2c-e-commerce-sales-in-indonesia/ (diakses pada 13:00 JST, 1 April 2017)
internetlivestats.com/internet-users/indonesia/ (diakses pada 15:50 JST, 1 April 2017)
emarketer.com/Article/What-Brand-Loyalty-Mean-Japan/1013310 (diakses pada 17:50 JST, 1 April 2017)
id.techinasia.com/daftar-startup-teknologi-jasa-finansial (diakses pada 02:36 JST, 10 April 2017)
ecommerceiq.asia/top-ecommerce-sites-indonesia/ (diakses pada 03:02 JST, 10 April 2017)

2 Replies to “Belajar Bisnis Online dari Negeri Sakura”

  1. Wah unik sekali ya ? jadi kalau beli kamera di Jepang itu murah banget dong

    1. Iya bisa dibilang begitu Mas hehe (selama beli di online retailer). Harga 2nd hand nya sih yang bisa jauh bgt, kalo harga barunya ya mirip2.

Leave a Reply