Agama: Kanker Bangsa Ini?

Sumber gambar: jpnn.com

Jawaban cepat saya: Bukan. Agama, apapun bentuknya, mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia. Yang menjadi kanker bangsa ini, menurut saya, adalah bagaimana sebagian masyarakat kita menyikapi perbedaan ‘pemaknaan’ agama yang ada.

 

Walau fisik saya masih di negeri Sakura, namun berbagai peristiwa yang belakangan ini terjadi di Indonesia berhasil membuat saya… kepikiran, kind of.

Ya, saya sedang membicarakan tentang aksi ‘super damai’ 212, boikot sari roti, dilarangnya umat kristiani dalam melaksakan misa di tempat umum (di Jawa Barat), protes terhadap uang baru, kapten (dan pelatih) Timnas yang bukan muslim dan bagaimana masyarakat Indonesia memaknai ‘agama’ yang mereka anut.

Sebagai seorang yang terlahir dan besar di keluarga dan lingkungan islam moderat, tentu saya bukan termasuk pendukung garis depan aksi ‘super damai’ 212, ataupun aksi bela islam lainnya. Tidak, saya tidak sedang menyalahkan mereka yang dengan gencarnya mendukung aksi tersebut; saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, aksi itu legal (memiliki izin) dan itu hak mereka menyampaikan pendapat. Sebagai mahasiswa yang memiliki banyak teman yang mendukung aksi tersebut, dan setelah membaca beberapa tulisan dari sisi mereka, sedikit banyak saya jadi paham.

Mungkin penjelasan mudahnya seperti ini:

  • Masyarakat yang kontra aksi bela islam ini, jalan pikirannya adalah: mengapa mereka (umat muslim yang ‘beraksi’) begitu memaksakan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; menolak pemimpin kafir, meng-auto-kafir-kan (tidak semua, hanya beberapa) mereka yang tidak ikut membela aksi 212? Di saat bangsa lain sedang memikirkan inovasi apa untuk kemajuan umat manusia, kenapa masih saja mempermasalahkan agama pemimpin kita?
  • Sedangkan masyarakat yang membela aksi bela islam, kurang lebih jalan pikirannya seperti ini: di kehidupan setelah kematian kelak, yang nanti ditanya bukan apa bangsamu, tapi apa agamamu. Maka, ketika kepentingan agama dan bangsa berada di sisi berlainan, sudah jelas di sisi mana kamu seharusnya ada. Ingat, kita ini hidup demi Allah semata. Dunia hanya tempat singgah, akhirat-lah tempat kita kekal.

Secara personal, jujur saya belum bisa dengan tegas memilih di antara keduanya. Saya, sebagai umat muslim, terharu saat melihat para jamaah masih bertahan di tengah derasnya hujan, terharu melihat jumatan yang jumlah jamaahnya mungkin menyentuh angka jutaan, terharu bagaimana aksi 212 itu memang benar-benar dilaksanakan dengan damai. Namun, sampai detik ini, saya masih condong untuk kontra pada aksi 212 dan aksi serupa.

Alasan saya sederhana:

  • Aksi ini terlalu rawan unsur politik-nya (ada penjelasannya di bawah),
  • Setelah melihat sendiri video Ahok yang kontroversial itu, saya belum 100% percaya Ahok menistakan Al-Qur’an. Berdasarkan perkataan Ahok secara literally, dia ‘hanya’ menyampaikan, “Kok mau sih dibohongi pakai Surat Al-Maidah.” Kata pakai saya tulis dengan font bold, karena itu berarti yang dia katakan (menurut versi saya, Anda boleh setuju boleh tidak) kurang lebih adalah ada pihak yang berupaya memprovokasi umat Islam menggunakan Surat Al-Maidah. Jadi, Ahok tidak pernah berkata bahwa Surat Al-Maidah ini adalah suatu kebohongan.
  • Saya belum bisa percaya pada semua hal yang terdapat unsur Front Pembela Islam (FPI) di dalamnya.

Ahok, sosok yang menjadi figur sentral dalam kasus ini, saat ini merupakan kandidat Gubernur DKI Jakarta. Tanpa bermaksud suudzon (berburuk sangka) atau berandai-andai, salah satu insentif yang tidak dapat disangkal dari aksi ini sudah jelas: menurunkan pamor Ahok secara drastis. Sebelum berbagai aksi ini diluncurkan, tingkat elektabilitas Ahok masih cukup tinggi apabila dibandingkan dengan calon lainnya. Namun saat ini, dapat dikatakan hampir mustahil dia mampu memperbaiki nama baiknya dalam waktu singkat.

Apa sulitnya, bagi pihak yang tidak menginginkan Ahok terpilih sebagai Gubernur (pihak ini tidak mesti kandidat lain; bisa saja pebisnis, atau orang elite pemerintahan, who knows), meminta ‘bala bantuan’ kepada FPI atau lembaga lain untuk menurunkan pamornya?

Keikutsertaan para petinggi negara, termasuk Jokowi, dalam aksi 212 juga seharusnya tidak perlu terlalu ‘dibanggakan’. Itu sudah jelas, sudah tugas mereka sebagai elite Negara (dan Presiden, khusus Jokowi) untuk menenangkan massa agar mereka tidak membuat kegaduhan. Lumayan juga buat meningkatkan pamor dan elektabilitas.

Penjelasan di atas merupakan insentif yang tergolong ‘di atas kertas’. Mungkin memang ada pihak yang ingin menggunakan kasus ini sebagai pengalihan isu, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya. Tapi, sekali lagi, saya tidak mau berandai-andai.

 

Efek Samping Aksi

Saya khawatir, aksi ini memiliki efek samping lainnya: memicu adanya ‘jarak’ antara umat muslim dan umat non-muslim. Coba lihat saat Timnas Sepak Bola Indonesia bertanding di Piala AFF, pasti ada saja yang meracau, “Kenapa kapten dan pelatih Timnas bukan muslim?” Atau coba lihat saat Pemerintah Indonesia menerbitkan uang dalam desain baru, ada saja yang meracau “Kok ada pahlawan yang tidak muslim tapi ditampilkan?” atau “Kok desain uangnya mirip Tiongkok (negara komunis)?” Saya tidak khawatir ini akan terjadi pada lingkaran pertemanan saya (saya yakin hampir semua teman saya memiliki tingkat intelektualitas yang cukup untuk dapat memilah informasi atau menyampaikan gagasan), namun saya khawatir ini terjadi pada masyarakat yang menerima ajaran Islam secara mentah-mentah. Mereka mudah sekali diprovokasi oleh ayat yang hanya sepotong-potong (karena mereka belum mengerti konsepnya secara menyeluruh), dan yang jadi masalah, jumlahnya cukup banyak.

Dan jika nanti di sebuah daerah yang mayoritas non-muslim terdapat seruan untuk tidak memilih pemimpin muslim, saya cukup yakin hujatan dan nyinyiran netizen sudah siap menyerbu. Padahal, itu apa bedanya dengan aksi 212?

 

Agama: Kanker bangsa ini?

Jujur saya sempat berpikir demikian, mengingat begitu banyaknya manusia Indonesia yang dengan mudahnya terprovokasi terkait sesuatu yang berkaitan dengan agama. Bangsa ini, menurut saya, semacam krisis identitas. Indonesia memang bukan negara muslim atau negara yang berlandaskan agama apapun secara konstitusi (para pahlawan kita telah memilih konsep demokrasi), namun jelas tidak siap jika disebut sebagai negara sekuler; memisahkan agama dari pemerintahan (di pembukaan UUD juga disebutkan bahwa negara ini terbentuk atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa).

Namun setelah dipikir lagi, menjadikan agama sebagai ‘kambing hitam’ agaknya logical fallacy alias sesat pikir. Agama, apapun bentuk dan konsepnya, pasti mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama umat manusia. Saya belum tahu jika ada agama yang mengajarkan kekerasan atau memaksakan kehendak. Maka, menurut saya yang menjadi masalah adalah bagaimana sebagian masyarakat kita memaknai agamanya. Bukan, saya tidak akan menjelaskan bagaimana seharusnya Anda memaknai agama; itu sesuatu yang sifatnya pilihan dan personal. Yang jadi poin saya adalah bagaimana masyarakat masih saja belum dewasa untuk memahami dan menghargai bahwa tidak semua orang memaknai agama dengan cara yang sama.

Fenomena auto-kafir (dengan mudahnya memberi label kafir), dan ‘memaksakan’ sesuatu berjalan menggunakan nilai-nilai Islam (yang dia percaya) adalah contohnya. Bagi saya, agama masihlah menjadi sesuatu yang saya simpan cukup pada diri saya sendiri dan orang-orang terdekat, bukan sesuatu yang saya umbar-umbar, let alone memaksakan sesuatu berjalan sebagaimana agama saya mengharuskan. Bukan berarti Anda harus menjadi seperti saya, terutama jika Anda memang ingin menjadi pemuka agama dan diharuskan untuk berseru, tetapi poinnya adalah: hargai mereka yang berpikir dan memilih untuk berbeda dengan Anda.

Dengan belajar menghargai, Anda tidak akan semudah itu terprovokasi untuk ‘membenci’ yang berbeda. Untukku agamaku, dan untukmu agamamu.

Leave a Reply