A Little Notes About Sharia (Islamic) Economy

*dishare ketika penulis sedang insomnia….
*sorry for not posting the original source, I’ve visited many site and get lost in it -_-

1. Khiyar
Berasal dari bahasa arab yang berarti pilihan atau mencari kebaikan dari 2 hal (melanjutkan / membatalkan)
Macam-macam khiyar:
a. Khiyar Majlis
hak pilih bagi kedua pihak untuk membatalkan akad selama mereka belum terpisah secara fisik.
b. Khiyar at-Ta’yin
hak pilih bagi pembeli dalam menentukan barang yang berbeda kualitas dalam jual beli, ditentang oleh ulama Hanafiyah, karena menurutnya dalam jual beli status barang harus jelas, tidak boleh al ma’dum (tidak jelas barangnya).
c. Khiyar Syarat
hak pilih untuk meneruskan atau membatalkan transaksi dalam tenggat waktu yang ditentukan.
d. Khiyar Aib
hak pilih untuk membatalkan apabila ada cacat (aib) dalam barang yang ditemukan setelah transaksi, dengan catatan kedua pihak tidak mengetahuinya pada saat transaksi.
e. Khiyar Ru’yah
hak pilih untuk membatalkan atau menyatakan berlaku sebuah transaksi yang barangnya belum dilihat secara fisik oleh pembeli ketika akad berlangsung, ditentang ulama Syafi’iyah, karena menurutnya transaksi gaib tidak diperbolehkan.




2. Zakat, Shadaqah dan Infaq
a. Zakat: wajib, dan ada batasan tentang jumlah yang dikeluarkan dan siapa saja yang
berhak menerima zakat. Secara bahasa (lughat) berarti tumbuh, berkembang. Menurut QS At-Taubah 10, artinya adalah membersihkan atau mensucikan.
 
“Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka”. (QS : At-Taubah : 103)
 
yang berhak menerima zakat disebuk mustahiq, ada 8 golongan, mereka yang berhak adalah:
~fakir
~miskin
~amil zakat
~muallaf
~budak
~gharimun (orang yang menjadi fakir karena hutang)
~fi sabilillah (yang berjuang di jalan Allah, contoh: guru ngaji)
~ibnu sabil/musafir
 
b. Infaq: secara sukarela member materi kepada seseorang. Tidak ada batasan bagi jumlah materi dan para penerima. Berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (materi) untuk sesuatu.
 
c. Shadaqah: lebih luas dari Infaq karena tidak sekedar materi, tapi juga yang non-materi. Berasal dari kata shadaqa yang berarti benar.
 
3. Akad-akad Muamalah
– Akad adalah pertalian antara ijab dan kabul
– Akad berbeda dengan wa’ad (janji), wa’ad adalah janji satu pihak kepada pihak lainnya, yang mengikat satu pihak saja. Terms and Conditions nya belum spesifik, jadi kalau tidak memenuhi janji hanya mendapat sanksi moral. Sedangkan akad sudah memiliki implikasi hukum.
– Akad dalam fiqih muamalah dibagi menjadi 2, yaitu akad tabarru’ dan akad tijarah.
– Akad tabarru’ : tidak mengejar keuntungan
– Akad tijarah : mengejar keuntungan
– Akad tabarru’ tidak boleh dirubah menjadi akad tijarah, tetapi sebaliknya akad tijarah boleh dirubah menjadi akad tabarru’.
 
– Macam bentuk akad muamalah yang terdapat dalam ekonomi syariah guna membangun sebuah usaha: (NCC: natural certainty contract – NUC: natural uncertainty contract)
a. Al Musyarakah (kerjasama modal usaha)
masing-masing pihak yang bekerjasama member dana, keuntungan dan resiko usaha ditanggung bersama. –NUC
~mufawadhah: memberikan porsi dana yang sama, tanggungan sama
~inan: porsi tidak sama, maka tanggungan juga tidak sama
~wujuh: yang satu member dana, yang satu member reputasi
~abdan: penggabungan keahlian, kerugiannya adalah waktu
b. Al Mudharabah (kerjasama mitra usaha dan investasi) –NUC
ada pihak penyedia dana (investor) dan ada pihak pengelola dana. Keuntungan usaha dibagi menurut kontrak.
~mutlaqah: investasi bebas digunakan oleh pengelola dana
~muqayadah: tidak bebas, sudah ditentukan oleh investor
~muzara’ah: pertanian, tanaman setahun
~musaqah: pertanian, tanaman tahunan
~mukharabah: bibitnya berasal dari pemilik tanah
c. Al Murabahah ( jual beli dengan pembayaran tangguh)
jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati dengan ketentuan penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan (margin) sebagai tambahannya. Besarnya keuntungan secara terbuka dapat diketahui penjual dan pembeli. –NCC
d. Bai’ As Salam (pesanan barang dengan pembayaran di muka)
transaksi yang pembayarannya dilakukan sebelum barang diterima. Ada 5 syarat, yaitu ada penjual, pembeli, modal (uang), barang dan ucapan (sighot) –NCC
e. Bai’ Al Ishtishna’ (jual beli berdasarkan pesanan)
semacam custom order, pembayaran sesuai kontrak –NCC
f. Al Ijarah (sewa / leasing)
pemindahan hak guna dengan pembayaran sewa tanpa memindah status kepemilikan – NCC
~Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT) memungkinkan kepemindahan kepemilikan pada akhir periode
~Ju’alah adalah akad ijarah yang pembayarannya didasarkan pada kinerja objek
g. Qard Al Hasan (pinjaman kebajikan)
bukan merupakan transaksi bisnis secara komersial, produk perbankan syariah untuk membantu pelanggan yang membutuhkan dalam keadaan terdesak dengan ketentuan tertentu.
h. Bai’ Naqdan: transaksi tunai –NCC
i. Bai’ Muajjal: transaksi non-tunai (cicilan) –NCC
 
4. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam
– ekonomi islam berkembang berkembang bersama islam itu sendiri. Prosesnya adalah:
1. Periode pertama (fondasi) ~ masa awal islam, 450 H / 1058 M
para ekonom islam di masa ini mendapat referensi islam yang akurat karena hidup bersama dengan para sahabat. Tokoh: Zayd bin Ali, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan al Shaybani, Abu Ubayd, Al Kindi, Junayd Baghdadi, Ibnu Miskawyh, dll.
 
2. Periode kedua ~ 450-850 H / 1058-1446 M
dilatarbelakangi oleh menjamurnya korupsi dan dekadensi moral, kesenjangan kaya dan miskin yang melebar, meskipun kondisi perekonomian masyarakat islam ada di taraf kemakmuran. Banyak pemikir besar yang karyanya dijadikan rujukan hingga kini. Tokoh: Al Ghazali, Nasiruddin Tutsi, Ibnu Taimyah, Ibnu Khaldun, Al Maghrizi, Abu Ishaq Al Shatibi, Abdul Qadir Jaelani, Ibnul Qayyim, dll.
 
3. Periode ketiga ~ 850-1350 H / 1446-1932 M
umat islam mengalami penurunan tentang segalanya, termasuk kejayaan pemikiran. Namun masih ada beberapa tokoh. Tokoh: Shah Waliullah, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, Ibnu Nujaym, dll.
 
4. Periode kontemporer (1930-sekarang)
– Era 1930-an merupakan kebangkitan kembali intelektualitas di dunia islam, didorong oleh keberhasilan negara-negara muslim merebut kemerdekaan dari kekuasaan negara-negara barat.
 
– Zarqa (1992) mengklasifikasikan kontributor pemikiran ekonomi berasal dari:
1. Ahli syariah islam
2. Ahli ekonomi konvensional
3. Gabungan keduanya
 
– Ahmad Khursyid (1985) membagi perkembangan ekonomi kontemporer menjadi 4 fase, yaitu:
1. Fase pertama
~ sekitar pertengahan 30an
~ muncul banyak analisis ekonomi social dari sudut syariah islam, wujud kepedulian terhadap dunia islam yang dikuasai barat
~ analisis nya berasal dari para ulama yang tidak mempunyai background pendidikan ekonomi
~ berbeda dengan para modernis yang memodifikasi islam sehingga bisa sesuai dengan teori ekonomi modern, para ulama justru berusaha memodifikasi teori ekonomi yang ada agar sesuai dengan syariah islam yang berlaku
~ menandai kebangkitan pemikiran islam modern
 
2. Fase kedua
~ sekitar 70an
~ banyak ekonom muslim yang mengembangkan aspek-aspek di ekonomi islam, terutama dalam sisi moneter
~ banyak membahas tentang bunga dan riba’, dan menawarkan pengganti bunga
~ mulai banyak konferensi ekonomi islam internasional, pertama diadakan di Mekkah pada 1976, disusul kemudian:
– 1977, London: Konferensi islam dan tata ekonomi internasional baru
– 1978, Mekkah: seminar ilmu ekonomi fiscal dan moneter islam
– 1981, Islamabad: idem
– 1982, Baden-baden, Jerman Barat: Perbankan islam
– 1983, Islamabad: konferensi internasional kedua tentang ekonomi islam
 
3. Fase ketiga
~ realisasi ekonomi islam, seperti bank tanpa bunga
~ bank tanpa bunga mulai banyak didirikan, baik negeri maupun swasta, baik negara muslim maupun barat
 
4. Fase keempat
~ pembahasan yang lebih integral dan komprehensif

Leave a Reply